Postingan

Bicara sendiri

 Ada banyak hal yang berubah. Mungkin diriku sendiri juga berubah. Beberapa orang yang dulu kuanggap sangat keren, kini terlihat biasa saja. Bahkan orang yang dulu tidak begitu kusukai ternyata sekarang bisa memakluminya. Entah aku yang banyak berubah, atau cara pandangku, atau apa? Aku tidak terlalu mengerti, juga tidak terlalu ambil pusing.  Aku ini, ingin sekali menjadi penulis. Tapi sesekali, aku takut tulisanku dibaca oleh orang lain. Aku selalu ingin orang lain menerima hal-hal yang baik saja dari diriku, dan sialnya aku bahkan tidak tahu apa hal baik yang bisa kubagi dalam tulisan yang aku buat. Mungkin disitulah alasan kenapa aku harus banyak membaca buku, lagi, setiap hari, entah sampai kapan.  Hidupku ini tenang. Tenang sekali. Aku melakukan sesuatu yang sama setiap hari. Jujur aku menyukai ketenangan ini, semua seolah sesuai dengan apa yang kuharapkan. Aku senang, karena dulu tak begini hidupku. Aku harus berapa kali bilang kalau aku bersyukur ya? Ya Allah, aku...

Setelah gerimis di Jogja

Aku berterima kasih karena tahun lalu hal paling sedih yang aku temui hanya ketika Gojo Satoru mati dan Eren dipenggal. Setelahnya, tidak ada hal-hal buruk yang membuatku sesenggukan seperti tahun-tahun sebelumnya. Perasaan tenang dan menyenangkan itu yang membuatku semakin menyukainya.  Sesekali aku melihat jalanan Jogja yang gerimis di pagi hari, melewati lampu merah Tugu Jogja dan berhenti sejenak. Hidup ini yang mungkin kuimpikan beberapa tahun lalu. Kerja sebagai content creator di bidang teknologi, gaji yang cukup untuk membuatku hidup, teman yang baik, dan kekasih yang menyayangiku.  Kalau dulu aku ingat pernah harus memakai flatshoes 35k yang sudah jebol berminggu-minggu dan harus jalan kaki menyusuri Semarang yang panas, rasanya hari ini cukup sekali. Apalagi mengingat saat aku disakiti oleh orang-orang di masa lalu dan membuatku gerd 3 bulan dengan berat badan turun drastis saking bodohnya. Aku beruntung karena aku tidak melakukan hal bodoh lain dan terus melakukan b...

Rengganis

Gambar
Namaku Rengganis, dan aku membenci banyak orang. Termasuk juga ayahku sendiri yang suka memukul ibu. Pembukaan cerita dengan awalan perkenalan memang sangat membosankan. Tapi memang begitulah hidupku. Sangat membosankan. Tapi aku masih tetap hidup karena beberapa alasan. Pertama, karena ibu. Kedua, karena aku tak tahu caranya mati.  Rengganis itu, nama pemberian  ibuku. Ayahku yang hobinya memukul kepala orang itu tidak mungkin kepikiran memberi nama kepada bayinya. Bahkan, saat aku masih kecil, ayah mengunciku di dalam lemari dan ia bercumbu dengan wanita lain di depan lemari. Padahal saat itu, ibu pergi bekerja dan aku sedang kelaparan.  Saat tumbuh dewasa, ibu bilang semua laki-laki  jahat. Jadi aku tidak mau menikah. Aku takut sekali kalau pipiku ditampar dan rambutku dijambak. Ayah selalu berlaku begitu kepadaku dan kepada ibu. Semenjak kejadian itu, setiap hari ibu selalu mengganti sprei kamar sambil menangis. Katanya, itu bekas perempuan lain. Bekas luka yang ...

Kematian Mantan Kekasih

Gambar
Di tumpukan buku dan kertas usang, seseorang tengah menyelinap dan memasukkan kedua bola matanya diam-diam. Bola mata itu bersembunyi di sebuah buku tentang cinta pada Halaman 75. Halaman yang acak, yang setiap orang membacanya juga jarang mengingat kata-kata di dalamnya. Bola mata itu lalu mengintip dari dalam buku, seorang perempuan dengan raut muka biasa saja. Mengetik sesuatu di laptopnya. Seingatnya, sudah ratusan kali ia melakukan hal semacam itu dan berakhir dengan merenung dan tidur di meja kerja.  Tempo hari, seorang laki-laki masuk ke dalam kamarnya. Mereka bercumbu kemudian menatap atap sama-sama. Perbincangan soal bagaimana hari-hari lalu membuat salah satunya meneteskan air mata. Musik yang berisik dan lorong-lorong di depan kamar yang dipenuhi riuhnya pertanyaan soal rencana membuat suasana semakin pelik. Setiap kali pertanyaan muncul, hanya ada anggukan yang keluar. Ah, sebuah jawaban yang selalu ingin dimengerti oleh sepasang mata.  Siang hari, perempuan berwaj...

Melukis kalimat panjang di kanvas penuh bercak darahmu

Gambar
Betapa kali ini aku mempelajari bahasa rindu paling sempurna. Sejak kepergianmu hari itu, malam-malam panjang aku selalu berusaha memberikan ruang kosong paling luas di   hatiku, merawatmu di sudut kenangan, kusimpan kau sebaik mungkin di antara degup jantung, aliran darah, pendengaranku, dan keterjagaanku. Semata, agar aku tetap melihatmu ada di semesta yang kubuat. Sayang, tentu saja kau tak pernah meninggalkanku. Kau sendiri kan yang berjanji? Bagaimana mungkin kamu membiarkan aku kebingungan dari banyaknya pertanyaan tentang keberadaanmu? Bagaimana mungkin kamu membiarkan aku tercekik dan menangis karena keberadaanmu yang aku tak tahu. Lihat, kekasih macam apa aku ini, bahkan tidak mengerti apakah kita masih berada di dunia yang sama atau tidak. Tetapi sayang, aku akan tetap melihatmu di sudut ruangan paling dingin, tersenyum, melukis dengan serius seperti biasanya. Aku tetap membuatkanmu kopi setiap hari, aku tetap menyiapkan   makanan di meja makan, aku selalu membuk...

Kiranya begitulah menjadi orang yang kucintai

Aku sangat menyesal mengapa tak lebih lama lagi aku memelukmu di hari itu. Kalau saja aku tahu pertemuan kita akan ditunda lagi kali ini, aku akan melakukan ritual paling menyenangkan sekaligus menyedihkan itu kemarin.  Menghabiskan waktu di depan buku usang dan setitik tinta berwarna hitam pekat ini benar-benar menyebalkan. Aku selalu berusaha memilih kalimat paling indah untuk kukirimkan kepadamu. Tapi sebenarnya keindahan itu yang seperti apa sayang? Apakah ia yang selalu kulihat saat kedua tatap kita bertemu? Atau hanya berhenti pada kalimat sampah yang keluar dari tangan perempuan cerewet dan menyebalkan?  Dari sudut pandang mana lagi aku harus menulis kamu? Bahasa rindu apalagi yang harus kugunakan? Karena aku sudah terlalu banyak menuangkan kata-kata di setiap perjalanan panjang kita, karena yang aku miliki juga tak lebih dari sehimpun kata-kata.  Kubaca beberapa karya orang lain soal arti cinta. Atau hal-hal yang lebih rumit dari itu. Aku semakin ingin mengenalmu ...

Meniup Percakapan Panjang di Balik Kekacauan yang Indah

Gambar
Pagi terakhir di kesempatan pertemuanku denganmu. Kutenteng koper merah jambu dan merengek dengan kesal. Bibirku masih ingin meniupkan beberapa kalimat panjang, juga badanku belum siap untuk dicabik-cabik kesepian. Kalau lima menit lagi aku tak bersama denganmu? Apa kamu akan merindukan aku?  Aku masih ingin melingkarkan kedua lenganku di bahumu, juga mengacak-acak rambutmu hingga berantakan. Aku selalu menginginkan pelukan hangat yang menyelimutiku saat ketakutan tiba-tiba datang dan memarahiku. Aku ingin terus berada di depan dadamu. Menjadi seseorang yang mendengar dengan jelas degup yang setiap menit kusukai.  Tapi pagi terakhir telah tiba dan kamu mengantarku ke tempat perpisahan paling tidak kusukai. Meskipun beberapa malam panjang telah kita habiskan, meskipun beberapa ciuman panjang telah kita lakukan, meskipun kedua tubuh kita melebur menjadi jutaan kalimat puisi yang utuh, meskipun demikian aku masih tetap ingin tinggal; dipelukanmu; setidaknya untuk selamanya. ...