Membelah
Aku tidak pernah menyesali apapun. Begitu juga keputusan bodoh di masa lalu. Tapi pilihan kali ini begitu menyebalkan. "Raya, berhentilah menjadi orang bodoh! Kamu terlalu lama membiarkan otakmu bersantai." Aku berusaha tidak mendengarkan suara itu. Baru kali ini aku benar-benar ingin membelah diri menjadi dua. Satu bagian untuk memenuhi segala ekspektasi dan tuntutan orang-orang di sekitarku, satunya kugunakan untuk bersikap tolol dan mengikuti apa yang kusukai.. Dengan seliar-liarnya. Sesekali, aku ingin menendang kepala orang sambil meludah di mukanya, memarahinya atas kebijakan-kebijakan goblok yang dibuat. Sebentar lagi, aku hanya ingin tidur di pangkuan seseorang sambil mematikan seluruh jaringan otakku. Aku ingin dielus-elus kepalaku sambil mencium tangannya beberapa kali. Rasanya aku bisa hidup lama dengan keadaan seperti itu. Rupanya enak juga menjadi bodoh dan melakukan hal yang kuinginkan. Aku merasa begitu hidup meskipun hanya beberapa waktu. Aku ingin mel...