Postingan

Sebuah cerita

Perasaan kecewa yang konyol, dan hayalan masa muda yang aneh

Gambar
Aku kecewa dengan mantan-mantanku. Mereka tidak memberikan banyak hal selain sesuatu yang membosankan…  dan agak sedikit menyakitkan.  Ah, mungkin ada sedikit sih hal seru yang kemudian menjadi alasan kenapa aku mau, tapi hanya satu atau dua hal. Selain itu, aku lebih banyak jatuh cinta dengan pikiranku sendiri.   Ini agak rahasia, tapi aku tidak tahan ingin menuliskannya. Aku kadang memiliki hayalan aneh saat aku melihat seseorang laki-laki; sejak aku umur 12 tahun, mungkin. Entahlah aku lupa.  Saat itu aku selalu membayangkan akan bertemu dengan laki-laki yang lebih tinggi dariku, dengan rambutnya menutupi jidat agak acak-acakan, badan yang proporsional, mata dan bibir yang bagus, suara yang enak didengar, dan suka membaca buku. Juga memiliki hobi yang dia geluti dan itu terbayang begitu seksi. Aku suka sekali laki-laki yang sibuk. Melihatnya dengan wajah kacau dan kelelahan karena bekerja begitu keras terlihat sungguh menarik.  Aku suka membayangkan akan berp...

Celotehan bayi dewasa

  “Kamarku berantakan sekali. Aku bingung bersihinnya dari yang mana dulu.”   Aku memberitahu ibuku kalau ia gagal mendidikku menjadi perempuan rapi. Tentu saja ibuku tidak kecewa atau marah atas kegagalannya, ia hanya bersikap santai seolah masalah kamar berantakan ini seperti cipratan air di pinggir kolam. Padahal ini benar-benar gawat. Aku tidak punya tenaga untuk melakukan hal-hal normal. Tidur di antara tumpukan benda-benda aneh dan baju-baju yang belum sempat kusetrika, membuatku mirip seperti Gregor Samsa versi belalang sembah. Aku cuma mau guling-guling di kasur sambil makan permen karet rasa coklat almond.  “Biasanya juga berantakan, kan?” Ibuku benar-benar meremehkan. Ini berantakan versi 10.2 yang artinya berantakan yang sangat berantakan sampai aku melihatnya pun tak sudi. “Mulai bersihkan sprei.” “Aku kelelahan. Nggak punya tenaga. “ “Yasudah tidur saja.” “Baiklah.” Hanya sampai di situ akhir dari permasalahan ini. Sesekali aku ingin dia bertanya padaku, “ken...

Anak nakal yang kelelahan di kereta

Hari saat pinggangku terasa pegal. Aku duduk di gerbang paling depan. Dengan keputusasaan dan rasa ganjil yang juga ikut duduk di sampingku. Kami hanya diam sambil melihat-lihat pintu kereta yang terbuka lalu tertutup otomatis.  Apa aku seseorang yang hina dan tidak pantas hidup?  Kenapa aku memikirkannya? Apa pentingnya pertanyaan itu?  Apa aku hanya tumpukan sampah yang kebetulan diberi nyawa?   Tapi, meskipun aku hanya tumpukan sampah, setidaknya orang tuaku menyayangi sampah yang berharga ini. Kupikir itu cukup.  Tapi jujur saja, itu tidaklah cukup. Sebenarnya… Aku kehilangan beberapa hela nafasku, dan kesusahan bernafas akhir-akhir ini. Aku juga kesulitan mendengar. Indraku hilang tepat saat aku meninggalkannya. Kuharap ia memilih seseorang yang bisa membuatnya lebih bahagia.  Hatiku sesak saat lidahku berusaha membela diri. Tapi kuingat, di masa lalu sudah kujelaskan berkali-kali, tentang alasan-alasan itu. Itu tidak mengubah apapun. Apa yang kukataka...

Benda kesayangan dan anak-anak yang bingung

 Layar laptopku retak. Jujur aku kesulitan saat harus menulis atau saat melihat Chibi Maruko. Harusnya aku segera menggantinya ya. Kata teman kantorku, laptopku sudah tidak tertolong. Membeli laptop baru adalah satu-satunya cara agar aku bisa bekerja lebih nyaman lagi. Tapi belum kulakukan. Mungkin.. Setidaknya aku berhasil menerbitkan satu buku lagi. Dan bukuku ada di rak gramedia, baru aku bisa mengganti laptop. Aku bilang begini bukan berarti aku tidak akan pernah mengganti laptop ya.. Tentu saja aku akan menggantinya akhir tahun ini. Kupaksa laptopku untuk terus menemaniku menulis beberapa pemikiran-pemikiran aneh itu. Kenapa? Karena aku begitu menyayanginya. Menyayangi benda-benda membuatku merasa lebih baik. Benda-benda tidak akan berpikir jahat dan berkata buruk kepadaku. Itu juga yang membuatku merasa begitu berat untuk mengganti laptop.  Seseorang akan menghadiahiku sebuah laptop yang baru. Mungkin aku juga akan jatuh cinta ke benda itu dan merawatnya bertahun-tahun, ...

Anak kecil yang bahagia dengan mimpi-mimpinya

 Aku tidak begitu yakin apakah suatu hari aku bisa pergi ke Jepang. Hahahaha. Habisnya, setiap kali aku menginginkan sesuatu, terlalu ingin, biasanya aku tidak bisa meraih itu. Mungkin, sampai mati aku akan selalu hidup dalam impian-impian yang sudah kutumpuk-tumpuk di kepalaku sejak kecil. Bagaimana rasanya menjadi penulis yang bukunya dibaca banyak orang, bagaimana rasanya bisa jalan-jalan sesuka hati, bagaimana rasanya bisa melihat salju, bagaimana rasanya makan makanan unik dari berbagai tempat yang kukunjungi. Kalau aku cerita ke ayah, pasti dia bilang pasti aku bisa meraih semua itu. Masalahnya, dia sama sekali tidak membantuku. Bukan seperti ayah-ayah temanku yang langsung menyediakan semuanya. Ayahku hanya punya rasa percaya dan semangat saja. Tapi aku begitu menyayanginya.  Kembali ke pembahasan Sapporo. Mungkin karena aku dasarnya wibu, jadi aku merasa begitu bersemangat melihat kota itu. Dengan siapapun, aku ingin membahas dan merencanakan kunjungan ke sana. Meskipu...

Pikiran-pikiran pecundang

 Aku lebih banyak berpikir kalau aku mungkin tidak akan menikah. Pikiran itu datang ke kepalaku lebih banyak daripada bayangan tentang kehidupan keluarga yang baik. Aku berbicara dengan temanku dengan begitu putus asa, lalu mereka mengasihaniku, atas semua hal yang kulalui. Katanya, aku tidak boleh berpikir seperti itu, pasti akan ada orang baik yang nanti mencintaiku dengan begitu banyak.  Lalu, hari-hari berlalu... Saat itu aku bilang "Kalau aku menikah, nanti kamu nggak datang gapapa kok, aku gamau kamu kerepotan gara-gara aku." Lalu dia bilang "Oh, astaga... Temanku yang berkali-kali bilang tidak mau menikah itu, hari ini membicarakan tentang undangan pernikahan." (Jujur saja, saat menulis ini aku berhenti lama sekali... lama sekali. Karena aku merasa begitu beruntung memiliki teman yang sangat perhatian dengan hidupku yang sejujurnya tidak jelas ini). Aku bertemu dengan beberapa orang yang memberiku gambaran tentang pernikahan. Mendengarnya aku senang sekali. A...

Membaca lembaran rasa lelah

Kata beberapa laki-laki yang sempat jatuh cinta padaku, aku ini egois. Mungkin itu benar, karena yang bilang tidak cuma satu. Selama ini aku selalu di mode survival dengan begitu erat melindungi diriku sendiri dari orang lain, mungkin usahaku itu justru disalahartikan menjadi egois? Atau memang aku ini egois tanpa sadar? Entahlah.  Aku juga paling benci kalau dibilang bodoh, payah, goblok. Rasanya lebih enak kalau orang lain justru mencaciku dengan sebutan bangsat, anjing, asu, jancok, dan sejenisnya. Aku ingat betul saat bapak-bapak ojol bilang aku payah karena aku kuliah di jurusan teknologi tapi aku tidak bisa memberi jawaban yang memuaskan saat dia protes kenapa orderannya sedikit padahal dia sudah stay di titik paling strategis di daerah itu. Bahkan dia sempat memergoki justru client memesan ojol yang jaraknya jauh dari sana. Itu salah aplikasi, katanya. Lalu aku hanya menjelaskan beberapa kemungkinan. Tapi dia tidak terima dan mengataiku anak payah. MUNGKIN AKU HARUS BILANG K...