Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2026

Celotehan bayi dewasa

  “Kamarku berantakan sekali. Aku bingung bersihinnya dari yang mana dulu.”   Aku memberitahu ibuku kalau ia gagal mendidikku menjadi perempuan rapi. Tentu saja ibuku tidak kecewa atau marah atas kegagalannya, ia hanya bersikap santai seolah masalah kamar berantakan ini seperti cipratan air di pinggir kolam. Padahal ini benar-benar gawat. Aku tidak punya tenaga untuk melakukan hal-hal normal. Tidur di antara tumpukan benda-benda aneh dan baju-baju yang belum sempat kusetrika, membuatku mirip seperti Gregor Samsa versi belalang sembah. Aku cuma mau guling-guling di kasur sambil makan permen karet rasa coklat almond.  “Biasanya juga berantakan, kan?” Ibuku benar-benar meremehkan. Ini berantakan versi 10.2 yang artinya berantakan yang sangat berantakan sampai aku melihatnya pun tak sudi. “Mulai bersihkan sprei.” “Aku kelelahan. Nggak punya tenaga. “ “Yasudah tidur saja.” “Baiklah.” Hanya sampai di situ akhir dari permasalahan ini. Sesekali aku ingin dia bertanya padaku, “ken...