Pikiran-pikiran pecundang
Aku lebih banyak berpikir kalau aku mungkin tidak akan menikah. Pikiran itu datang ke kepalaku lebih banyak daripada bayangan tentang kehidupan keluarga yang baik. Aku berbicara dengan temanku dengan begitu putus asa, lalu mereka mengasihaniku, atas semua hal yang kulalui. Katanya, aku tidak boleh berpikir seperti itu, pasti akan ada orang baik yang nanti mencintaiku dengan begitu banyak.
Lalu, hari-hari berlalu... Saat itu aku bilang "Kalau aku menikah, nanti kamu nggak datang gapapa kok, aku gamau kamu kerepotan gara-gara aku." Lalu dia bilang "Oh, astaga... Temanku yang berkali-kali bilang tidak mau menikah itu, hari ini membicarakan tentang undangan pernikahan." (Jujur saja, saat menulis ini aku berhenti lama sekali... lama sekali. Karena aku merasa begitu beruntung memiliki teman yang sangat perhatian dengan hidupku yang sejujurnya tidak jelas ini).
Aku bertemu dengan beberapa orang yang memberiku gambaran tentang pernikahan. Mendengarnya aku senang sekali. Ada orang yang berniat untuk bekerja keras agar aku bahagia. Rasanya kehadiranku yang sempat kuumpat bertahun-tahun itu ada harganya. Ada laki-laki yang mau hidup bersamaku, setelah melihat semua hal-hal aneh dan kekacauan yang pernah kulakukan. Tapi setelahnya, muncul perasaan yang menakutkan. Aku takut sekali mencintai seperti halnya dulu ketika aku benar-benar menyerahkan semua rasa percaya dan hatiku kepada orang lain. Biasanya, aku akan diperlakukan tidak baik setelah beberapa waktu kami bersama. Dan aku akan bersedih sepanjang hubungan itu. Mereka menyalahkanku atas kegagalan-kegagalan yang terjadi. Katanya aku terlalu kekanak-kanakan dan berisik. Semua itu menakutkan. Aku sudah berusaha menjadi dewasa. Berpakaian seperti orang dewasa, makan makanan orang dewasa, pergi ke tempat-tempatnya orang dewasa, bekerja seperti orang dewasa, berbicara seperti orang dewasa, dan membaca banyak buku-buku dewasa.. Supaya apa? Supaya aku tidak lagi dibentak karena sifat kekanak-kanakanku yang menyebalkan ini. Supaya aku bisa berpikir tanpa harus dibodoh-bodohkan di depan mataku hanya karena aku mencintainya. Tapi memang semua itu tidak berhasil. Aku tidak bisa berpikir pintar dan melakukan hal-hal bodoh yang menyebalkan. Aku terkurung di pikiran anak-anak, dan sendirian di tempat itu.
Aku tidak lagi ingin dibuang saat mencintai seseorang. Jadi aku memilih untuk pergi lebih dulu sebelum semuanya terjadi.
Tapi aku butuh sosok orang yang menjagaku dari hal-hal lain. Sempat berikir, mungkin kalau aku bisa berhasil dengan pekerjaanku, aku akan meng-hire seorang teman untuk bisa menemaniku bersama-sama ke tempat yang kumau. Tapi setelah berpikir begitu, aku menangis lagi. Apa aku harus seberusaha itu untuk bisa percaya dan mencintai orang lain? Apa aku harus memberinya uang dulu agar aku bisa punya orang yang menjagaku? Apa aku setidakpantas itu untuk merasakan kebaikan-kebaikan? Aku takut sekali. Aku bisa memaafkan semua perlakuan buruk orang-orang di masa lalu, tapi ketakutan itu tidak bisa hilang sampai sekarang. Aku begitu takut. Takut sekali. Aku tidak mau berada di posisi seperti itu lagi. Jadi aku meninggalkan diriku yang lama agar tidak lagi bertemu dengan orang yang sama.
Tapi sekarang apa yang harus kulakukan? Aku harus bertanya kepada siapa? Aku tidak tahu. Ketidaktahuanku membuat orang-orang kesal. Aku meminta maaf karena aku benar-benar tidak tahu. Aku tidak tahu harus apa dan bagaimana. Rasanya begitu sedih dan takut. Kenapa orang lain bisa dengan berani memutuskan sesuatu sedangkan aku begitu pengecut? Kenapa belajar yang kutekuni selama belasan tahun seperti tidak ada artinya? Kenapa aku begitu goblok! Kenapa orang-orang bisa menikah? Apa mereka tidak takut?
Aku ingin bertemu ayahku dan memarahinya. Kenapa dia menyuruhku menikah disaat perasaanku penuh dengan cintanya? Kenapa aku begitu menyayangi ayahku? Padahal dia tidak punya banyak uang dan tidak sempurna? Kenapa aku begitu menyayanginya sampai seperti ini? Kenapa?
Aku membenci kehidupan miskin yang dia ciptakan. Aku benci melihat diriku harus berusaha keras agar bisa hidup dengan layak. Aku benci ayahku yang selalu menanyakan hal-hal sama setiap hari. Aku benci atas kesalahan-kesalahannya di masa lalu. Tapi aku tetap menyayanginya. Begitu menyayanginya. Apa karena itu, akhirnya aku sering menoleransi laki-laki yang berbuat buruk kepadaku... Dan masih tetap menyayanginya meski harus menangis setiap hari? Bagaimana bisa ayah menyuruhku hidup dengan laki-laki lain yang berpeluang akan menyakitiku, jauh lebih banyak dari pada dia? Aku takut sekali. Aku takut sekali. Aku harap ada orang yang memelukku dan melindungiku dari semua ini.
Aku ingin tidur dan makan dengan lahap seperti waktu kecil. Lalu memandang laki-laki hanya karena dia menyenangkan dan suka memberiku banyak makanan. Aku ingin belajar mencintai dengan tulus seperti itu. Tidak membandingkan dengan kehidupan orang lain yang lebih beruntung, atau menyesali pilihanku. Aku ingin mencintai dengan bodoh, tanpa berpikir banyak hal-hal lain yang membuatku sedih. Dan, mungkin sejujurnya aku begitu ingin menikah...
Mungkin, suatu hari...
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan jejak di sini yuk!