Benda kesayangan dan anak-anak yang bingung
Layar laptopku retak. Jujur aku kesulitan saat harus menulis atau saat melihat Chibi Maruko. Harusnya aku segera menggantinya ya. Kata teman kantorku, laptopku sudah tidak tertolong. Membeli laptop baru adalah satu-satunya cara agar aku bisa bekerja lebih nyaman lagi. Tapi belum kulakukan.
Mungkin.. Setidaknya aku berhasil menerbitkan satu buku lagi. Dan bukuku ada di rak gramedia, baru aku bisa mengganti laptop. Aku bilang begini bukan berarti aku tidak akan pernah mengganti laptop ya.. Tentu saja aku akan menggantinya akhir tahun ini. Kupaksa laptopku untuk terus menemaniku menulis beberapa pemikiran-pemikiran aneh itu. Kenapa? Karena aku begitu menyayanginya. Menyayangi benda-benda membuatku merasa lebih baik. Benda-benda tidak akan berpikir jahat dan berkata buruk kepadaku. Itu juga yang membuatku merasa begitu berat untuk mengganti laptop.
Seseorang akan menghadiahiku sebuah laptop yang baru. Mungkin aku juga akan jatuh cinta ke benda itu dan merawatnya bertahun-tahun, seperti halnya laptop ini. Tapi tentu, laptop ini tetap punya tempat tersendiri di hatiku. Dia kubeli dari uang beasiswa. Untuk pertama kalinya aku punya laptop baru. Biasanya sih aku pinjam perpus atau beli second yang serba penyakitan. Aku senang sekali. Hampir setiap hari kubawa kemana-mana, karena aku takut kalau ada moment dimana aku ingin sekali menulis. Tapi itu bikin punggungku sakit. Jadi kuletakkan di kos. Dasar bocah!
Oh iya, aku pernah menjatuhkannya di warung mie ayam di daerah Tembalang. Ada sesuatu yang pecah. Jadi aku minta tolong kakak tingkatku yang agak galak itu membenarkannya. Jujur dulu aku itu orangnya penakut sekali. Ada cowok gondrong dikit, takut. Ada cowok yang kalau ngomong nadanya kasar dikit, takut. Hidup serba takut melelahkan sekali. Jadi aku sering meringkuk di kos, menangis sendirian. Lalu mandi dan minum susu.
Laptop ini juga yang buat aku bisa menerbitkan dua buku. Jujur saja, aku enggan mempromosikan lagi buku-buku itu karena aku malu dengan apa yang tertulis di sana. Tulisannya begitu alay dan cengeng. Ih aku benci orang cengeng. Rasanya mau kutendang kepalanya dan bilang "Kamu tuh lemah banget sial!" Ya begitulah yang kupikirkan.
Aku selalu kesal memikirkan bagaimana kehidupan setelah ini. Setiap hari aku sengaja mengurangi screentime-ku karena takut darah tinggi melihat isu-isu politik. Aku tahu, aku tidaklah sepintar itu untuk berkomentar macam-macam soal apa saja hal menyebalkan yang terjadi di Indonesia. Tapi bahkan, aku yang merasa bodoh ini saja tetap jengkel dengan kabar buruk dan kebijakan anjing yang selalu dibuat. Kenapa mereka bahkan terlihat lebih bodoh dari aku? Yang kehidupannya berhenti di usia 16 tahun ini? Kenapa sih orang-orang tua itu hobi sekali membuat sesuatu yang merepotkan banyak orang? Apa tidak ada perasaan cemas dan panik ya saat mereka berbuat jahat? Apa enaknya makan sesuatu dari uang hasil merampas hak orang lain? Apa bisa hidup dengan tenang kalau anak-anak diberi makan dari uang yang berasal dari air mata jutaan orang? Apa anak-anak akan berterima kasih kalau punya orang tua yang jahat dan kejam? Kenapa kita tidak hidup sesuai dengan apa yang seharusnya kita lakukan? Kenapa dari sekian banyak hal-hal yang bisa kita coba selama hidup, ada orang-orang yang memilih untuk menjadi rakus dan kejam supaya egonya meninggi. Apa hebatnya?
Kenapa orang-orang itu selalu melakukan sesuatu hanya untuk mementingkan diri sendiri? Kenapa mereka menggunakan kelicikan untuk membodohi rakyat-rakyatnya? Kenapa mereka tidak menjadi pemimpin yang baik? Apa nanti anak-anak akan tumbuh menjadi orang dewasa yang seperti itu juga? Apa mereka juga akan menjadi orang tua yang tidak segan menghilangkan nyawa orang lain agar ia bisa lebih kaya? Apa yang harus kita lakukan? Kenapa begitu menjengkelkan dan membuat sesak kalau terus membaca kabar itu? Tapi kalau tidak dibaca, kenapa justru lebih khawatir lagi? Apa aku sudah tidak ada di usiaku yang ke-16 tahun? Apa aku kini sudah menjadi orang dewasa yang juga kecewa dengan pemerintah? Apa aku sudah tidak lagi memiliki mata yang akan memandang semua hal adalah bentuk keindahan lagi?
Mungkin iya.
Aku memang akan terus menjadi anak-anak sekali waktu. Tapi, anak-anak juga pasti bingung dengan ketidakjelasan hidup di negeri ini. Kenapa? Kenapa? Kenapa sekarang semuanya mahal? Kenapa kami sekarang jarang makan enak di rumah? Kenapa ayah ibu selalu bertengkar karena masalah uang? Kenapa ayah kehilangan pekerjaan? Kenapa bu guru harus bekerja lagi setelah lelah mengajar kami? Kenapa banyak teman-teman yang putus sekolah? Kenapa perpustakaan dirobohkan? Apa kami sudah tidak boleh membaca buku? Kenapa ayah dan ibu tidak mampu membelikanku buku bacaan? Apa harga buku semahal itu? Apa pemerintah tidak suka membaca?
Kenapa banyak sekali kerusuhan? Kenapa banyak orang kaya yang pindah negara? Kenapa pemimpin selalu marah-marah dan berbicara yang tidak baik? Apa karena dia pemimpin? Jadi bisa melakukan apa saja yang dia inginkan? Apa pemimpin itu berarti menjadi pemilik dari segala hal yang ada di negara ini? Termasuk kita? Kita jadi miliknya yang bisa ia biarkan hidup atau dimatikan saja kalau dia iseng?
Tapi.. Bukan begitu pemimpin yang diperkenalkan bu guru di sekolah. Pemimpin seharusnya tidak begitu. Bahkan dasa dharma pramuka saja jauh lebih baik dibandingkan gambaran pemimpin itu.
Apa dulu orang-orang itu tidak mendengarkan nasehat dari guru di sekolah? Apa mereka tidak pernah dimarahi oleh guru ngaji? Apa mereka tidak ingin menjadi raja yang keren seperti di film kartun? Apa mereka dulu tidak pernah menjadi anak-anak? Apa tidak ada rasa takut kepada sumpahnya sendiri saat awal mula menjadi pemimpin?
Anak-anak biasanya akan sangat takut jika sudah disumpah dengan kalimat "Coba julurkan lidah kamu! Alif Ba Ta! Nah, kamu udah bersumpah. Jaga rahasia tadi ya!" Dan kami akan mengangguk, tidak akan melanggar sumpah itu meskipun sumpahnya hanya tiga huruf hijaiyah yang kami pelajari di Iqro. Kenapa? Kenapa justru anak-anak lebih mengerti dan lebih menghargai sumpah dibandingkan dengan orang dewasa?
Apa yang mereka alami sampai mereka bisa berbuat seperti itu? Apa kehidupan dewasa itu sebegitu rumitnya? Sampai anak-anak tidak lagi bisa memahami apa yang dilakukan orang dewasa? Apa mereka tidak pernah menangis karena sudah melakukan hal buruk ke orang lain? Apa mereka tidak ingin meminta maaf dan sama-sama tertawa dengan banyak orang? Apa mereka sudah tidak memiliki jiwa anak-anak di dalam hatinya? Apa semua orang dewasa memang begitu? Akan menjadi jahat suatu hari, jika punya kekuasaan?
Entahlah.
Begitu menakutkan menjadi orang dewasa.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan jejak di sini yuk!