Celotehan bayi dewasa

 “Kamarku berantakan sekali. Aku bingung bersihinnya dari yang mana dulu.” 


Aku memberitahu ibuku kalau ia gagal mendidikku menjadi perempuan rapi. Tentu saja ibuku tidak kecewa atau marah atas kegagalannya, ia hanya bersikap santai seolah masalah kamar berantakan ini seperti cipratan air di pinggir kolam. Padahal ini benar-benar gawat. Aku tidak punya tenaga untuk melakukan hal-hal normal. Tidur di antara tumpukan benda-benda aneh dan baju-baju yang belum sempat kusetrika, membuatku mirip seperti Gregor Samsa versi belalang sembah. Aku cuma mau guling-guling di kasur sambil makan permen karet rasa coklat almond. 


“Biasanya juga berantakan, kan?”

Ibuku benar-benar meremehkan. Ini berantakan versi 10.2 yang artinya berantakan yang sangat berantakan sampai aku melihatnya pun tak sudi.


“Mulai bersihkan sprei.”

“Aku kelelahan. Nggak punya tenaga. “

“Yasudah tidur saja.”

“Baiklah.”


Hanya sampai di situ akhir dari permasalahan ini. Sesekali aku ingin dia bertanya padaku, “kenapa kau seperti ini? Apa kau sedih? Apa kau lelah? Apa kau kepikiran sesuatu? Sayang?” Oh. Tidak. Kata “sayang” terlihat berlebihan jika diucapkan ibuku. Seumur hidup aku tidak pernah mendengar kata-kata itu keluar dari mulutnya, bahkan kepada suaminya. Apalagi padaku? Aneh sekali. 


Kupingku berdengung kencang dan aku kesakitan. Rasanya aku seperti perempuan yang tidak pantas hidup. Aku benar-benar putus asa dan tidak memiliki banyak hal berharga yang bisa kuperjuangkan. Aku gagal dalam segala hal, aku pemalas, dan aku jahat kepada banyak orang. Orang-orang tidak pantas berteman dengan makhluk sepertiku. Harusnya aku menjadi ramen yang dijual di resto. Ah, andai aku bisa membelinya besok. Sepertinya bosku lupa kalau hari ini seharusnya aku gajian. Akan sangat canggung kalau malam-malam aku mengetok pintu rumahnya dan menanyakan gajiku. 


Aku sedang merencanakan terlambat di esok hari. Karena setiap malam aku selalu menangis karena pikiran bodohku. Orang-orang bodoh sepertiku ditakdirkan menangis setiap malam, terutama menjelang menstruasi. Aku menggunakan lebih banyak perasaanku dibandingkan logika. Maka aku melihat sesuatu dengan perasaan. Orang-orang menyebutnya idiot. Aku setuju. 


Aku ingin menggeliat di pelukan seseorang dan bermanja-manja seperti anak kecil. Aku tidak butuh apapun selain itu. Mungkin aku butuh uang dan sedikit makanan enak, tapi pelukan jauh lebih kubutuhkan saat ini. Aku ingin dipeluk oleh semua orang. Bayanganku, saat aku berkunjung ke pasar malam, semua orang menyambutku dengan senyum hangat dan mereka memelukku satu persatu. Ah, apa aku jadi pejabat saja ya? 


Aku tidak akan korupsi, aku hanya ingin dicintai oleh banyak orang. Dan aku ingin mereka menatapku seperti anak kecil. Dengan bola mata yang berbinar dan senyum yang menyenangkan. Aku bisa berjingkat-jingkat dan menari-nari sambil semua orang memuji tarianku yang tidak jauh berbeda dengan gerakan kampret. 


Aku ingin disayang-sayang kalau aku gagal. Juga semakin disayang kalau aku berhasil. Dan tetap disayang saat aku tidak melakukan apapun. Aku ingin diberikan pajak kasih sayang dari semua orang di muka bumi ini, bahkan dari para kucing-kucing imut yang bentuknya gemas pengen aku hih!


Ya begitulah. Aku pengemis kasih sayang. Semua orang menginginkannya, dan aku adalah orang yang paling ingin. Semoga suatu hari aku selalu mendapatkan kasih sayang dan pelukan-pelukan itu setiap hari. Aku ingin dipeluk dari belakang saat aku tidur, aku ingin diusap kepalaku saat aku berhasil mebghabiskan makanan, aku ingin didekap erat saat aku ketakutan. Semua itu kuinginkan lebih dari apapun di dunia ini. Aku ingin disayangi seperti halnya bayi-bayi. 


Komentar

Daftar Bacaan

Benda kesayangan dan anak-anak yang bingung

Pikiran-pikiran pecundang

Anak kecil yang bahagia dengan mimpi-mimpinya

Ditelan rasa takut

Cerita soal mengapa

Membaca lembaran rasa lelah

Sulitnya berperilaku normal