Postingan

Ditulis saat mengantuk

Gambar
Seperti biasanya, setelah membaca buku aku terdiam sebentar.   Dulu, aku sempat merasa takut.. kalau aku (yang perempuan ini) akan mengalami nasib yang sama dengan beberapa tokoh perempuan seperti yang ada di buku sejarah itu.  Agak alay memang, tapi betul-betul kurasakan takut.. dan penyebabnya ada pada pikiran seperti “Bagaimana jika aku salah memilih laki-laki? Bagaimana jika nanti aku justru bersama dengan orang yang otaknya diisi oleh patriarki dan pemahaman dangkal soal welas asih? Atau mungkin bisa jadi laki-laki beragama yang justru menuhankan egonya? Dan aku? Bagaimana nasibku? Duh, terpanjara begitu saja masa? Tidak mau!! Aku tidak mau dilarang membaca buku, tidak mau dikekang melakukan sesuatu yang kusukai, tidak mau dijadikan budak seks oleh suami sendiri, tidak mau dianggap sebagai seenggok benda yang hanya berfungsi buat melahirkan anak! Bagaimana jika nanti laki-laki yang kupilih ternyata suka memukul? Bahkan aku yang dibesarkan dengan sangat baik dan disekolahk...

Rasa sedih yang kadaluarsa

Gambar
Di bawah remang-remang langit. Perempuan yang hidup sekitar dua dasawarsa ini merasa kebingungan. Atas hal yang sejujurnya tidak terlalu penting untuk dipikirkan wkwkwk. Sayangku selalu bilang bahwa aku senang merepotkan diri sendiri dan aku setuju dengan itu. Ya, seperti hari ini contohnya. Selepas terbangun dari mimpi buruk dan menghirup oksigen dengan dada tersengal, aku mandi dan mendapati tidak ada yang membuat benar-benar bahagia hari ini. Selain,..    selain lampu kos yang diatur hidup otomatis setiap jam 6 sore. Juga buku-buku dari Gilang yang belum sempat kubaca. Bagaimana ya aku ini? Kenapa hidupku isinya cuma lelah dan lelah? Boro-boro mau menjadi perempuan keren yang mampu menjelajah bumi, beranjak dari gerbang kos saja bisa dihitung jari. Yah, cuma agak bersyukur karena saat keluar kos aku merasa banyak kelegaan yang timbul. Aw, lucu sekali dunia yang kupijaki ya sayang ya.. Penuh warna tapi tidak banyak yang menjadi milikku. Makanya, sebanyak apapun pelangi yang ...

Merasa lesu, tapi kalau dinafkahi belum mau

Gambar
Seperti perempuan yang berumur 20 tahun lainnya, aku suka mendengarkan lagu sedih meskipun aku tidak sedih sama sekali. Setidaknya, ada hal lain yang lebih penting dari sekedar rasa sedih. Tetapi aku sekarang sedang merasa…. Emm apa ya namanya ini? Perasaan yang tidak tahu apa namanya ini, agak mengganggu kehidupanku. Mungkin bosan, mungkin capek, bisa juga dibilang bingung karena tidak punya uang. Kadang, tengah malam aku bertanya ke diriku sendiri. Pilihanku yang kemarin itu? Apakah sebenarnya salah? Apa memang seharusnya aku merasakan hal ini? Detik ini? Ah, aku malu mengakuinya tapi inilah yang orang-orang sebut “Penyesalan”. Papa tahu, hal yang paling kubenci di dunia ini adalah rasa menyesal dan orang yang berusaha membuatku menyesal. Double kill yang menyebalkan.  Tapi, kenapa seolah dunia ini saling bahu membahu membuatku merasa menyesal! Anjirla, menyebalkan sekali! Kita agak bergeser dari topik soal “tidak punya uangku” ya.. ini topik yang kedua. Kenapa kepalaku selalu s...

Tuhan, kenapa aku kece banget?

Gambar
Perempuan gila, katanya. Aku dengan rambut se-bahu dan terurai tidak mendengarkan omongan itu. Kututup rapat-rapat pintu kamarku, juga duniaku, juga celah di antara bolongan tikus, juga lubang-lubang udara. Aku tidak lagi ingin bernapas di udara yang sama dengan orang di sekitarku. Berkali-kali ingin pergi, tapi tidak tahu kemana. Ingin sekali-sekali aku menggunakan semua uangku (yang nggak seberapa itu) untuk terbang ke pulau entah berantah dan bertemu dengan orang dengan warna kulit yang berbeda denganku.  Baru aku ingat. Beberapa waktu belakangan, mama selalu memberiku dress putih selutut. Sekejab, orang akan memandangku sebagai perempuan yang sinting dengan seragam rehabilitasi di ruanganku sendiri (yang kebetulan warnanya juga putih). "Aku butuh cinta, mama. Aku butuh dipeluk selain diriku sendiri." Entah apa yang kulakukan, entah apa yang kupikirkan. Semakin gelisah rasanya saat ada orang yang dengan terang-terangan memujiku cantik dan pintar. Setidaknya setiap hari aku...

Ragu

Gambar
Aku masih menunggu proses exfoliasi kulitku selama 10 menit. Mengingat dan membicarakan bagaimana aku setelah lulus nanti masih menjadi perkara yang menyebalkan akhir-akhir ini. Anak teknik yang menulis? Menjadi penjual buku yang ternyata tidak laku? Oh, menyedihkan sekali nasipku ini ya? Padahal juga itu belum tentu terjadi. Pasca menjadi moderator kemarin, pasca diingatkan dan ditampar soal bagaimana anak teknik seharusnya hidup, aku mulai berkaca pada diriku sendiri. Apa yang aku lakukan selama ini sia-sia? Atau salah? Atau sudah terlambat? Atau ada yang kurang? Kemudian, dengan tiba-tiba aku terkena serangan panik yang menakutkan. Seolah ada hal penting yang kulewatkan begitu saja kemarin. Tapi apa? Entahlah. Rasanya hidup memang berlari terlalu cepat dibandingkan waktu yang kupasang pada diriku sendiri. Lalu, aku melihat cermin. Menatap kedua bola mataku yang bundar seperti dua bulan yang dijejer dan direkatkan pada sebuah kepala (yang bentuknya bundar juga). Rasanya, baru kemarin...

Doa tengah malam (Bukan tulisan religi)

Gambar
05 Januari, 2022 Saat menulis ini kepalaku sedang sakit. Ada hal yang mengganggu pikiranku, banyak. Tapi tidak bisa kujelaskan di dalam halaman kosong ini. Singkat cerita, aku harus memperkenalkan diriku (lagi). Ya, perkenalkan aku "Shely yang baru" (dibaca miko). Setidaknya itu usahaku untuk benar-benar melupakan bagaimana diriku di masa lalu.  Memang benar, kalau masa lalu ada untuk jadi pembelajaran di masa depan. Tapi aku memilih untuk benar-benar membuka buku baru dan meninggalkan aku yang dulu pernah melakukan hal-hal bodoh dan egois. Setidaknya, aku egois karena hampir dengan sengaja berusaha mengakhiri perputaran bumi di diriku sendiri.  Saat pulang dari perjalanan gabutku di Ponorogo, aku melihat bulan sabit indah sekali. Benar-benar berada di atas kepalaku. Tuh kan, apa kubilang. Bahkan bulan yang tidak sempurna saja terlihat sangat indah. Oiya, nama belakangku yang "Wulandari" itu artinya bulan purnama.  Nama yang lebih indah daripada bulan sabit yang aku...

Bukan Desember Kelabu

Gambar
Sejujurnya tidak ada alasan kenapa menampilkan album Desember Kelabu Karya A.Riyanto yang dirilis tahun 1982 di permulaan paragraf ini. Hanya terlihat lucu saja. Mirip kisah hidupku beberapa tahun belakangan soalnya, haha. Setiap Desember patah hati, setiap akhir tahun harus bersedih karena beberapa hal terjadi dan melukai hatiku. Tapi akhirnya Desember tahun ini jalan hidupku lumayan berubah. Aku justru merasa damai dan menunggu terompet akhir tahun terdengar di speaker ponselku. (Di sekitar rumahku nggak ada yang meniup terompet tahun baru, jadi aku lihat di youtube) Pagi, akhir tahun, Desember yang baik, dan pertemuan panjang dengan banyak orang asing. Belum pernah aku merasa hidupku begitu tertata seperti ini. Mengerjakan sesuatu sampai lupa waktu, berbincang dengan teman baru, membaca buku dengan genre yang berbeda, keluar rumah dan melihat sekeliling dengan perasaan lega.  Akhir tahunku ini mulai memberi sinyal cukup baik, ya setidaknya baik untuk hidupku sendiri. Kalau boleh...