Membaca lembaran rasa lelah

Kata beberapa laki-laki yang sempat jatuh cinta padaku, aku ini egois. Mungkin itu benar, karena yang bilang tidak cuma satu. Selama ini aku selalu di mode survival dengan begitu erat melindungi diriku sendiri dari orang lain, mungkin usahaku itu justru disalahartikan menjadi egois? Atau memang aku ini egois tanpa sadar? Entahlah. 

Aku juga paling benci kalau dibilang bodoh, payah, goblok. Rasanya lebih enak kalau orang lain justru mencaciku dengan sebutan bangsat, anjing, asu, jancok, dan sejenisnya. Aku ingat betul saat bapak-bapak ojol bilang aku payah karena aku kuliah di jurusan teknologi tapi aku tidak bisa memberi jawaban yang memuaskan saat dia protes kenapa orderannya sedikit padahal dia sudah stay di titik paling strategis di daerah itu. Bahkan dia sempat memergoki justru client memesan ojol yang jaraknya jauh dari sana. Itu salah aplikasi, katanya. Lalu aku hanya menjelaskan beberapa kemungkinan. Tapi dia tidak terima dan mengataiku anak payah. MUNGKIN AKU HARUS BILANG KALAU YANG SALAH MEMANG APLIKASINYA! ATAU AKU SEHARUSNYA IKUT MENGATAI APLIKASINYA GOBLOKKK SUPAYA DIA LEGA! Oh maaf aku jadi sedikit emosi mengingat kejadian itu. Akhir-akhir ini aku agak sedikit pemarah juga karena aku terlalu stress dengan kehidupanku, dan... mungkin karena sebentar lagi aku datang bulan. 

Aku seharusnya mengakui sesuatu di hidupku, aku memang payah di beberapa hal. Ada momen saat aku merasa seperti seekor serangga yang hidup di dalam bilik seharga satu juta di Jogja. Aku terus melakukan hal berulang-ulang setiap hari, tetapi tidak membuatku merasa lebih baik. Semuanya kosong dan aku terus merasa seperti seekor serangga menjijikkan yang kerjanya hanya lapar dan makan. Setiap kali pulang kerja, aku harus membuat sebuah manik-manik atau rajutan. Kemudian mengirimnya. Lalu lanjut memasak dan makan. Aku baru teringat kalau aku belum mandi dan membersihkan alat makanku. Saat masuk ke kamar mandi, aku teringat hari ini jadwalnya membersihkan kamar mandi. Lalu aku membersihkan kamar mandi dilanjutkan mandi. Setelahnya aku membereskan kamarku dan berbaring sebentar. Tiba-tiba aku harus mencuci baju karena mumpung jemurannya tidak dipakai orang lain. Ah, akhirnya bisa istirahat sebentar. Kuambil salah satu buku di rak dan membacanya beberapa lembar. Tidak lama setelahnya, aku melihat langit-langit kamar yang serba putih dan kesepian. Menyerap rasa sepi dari ruangan ini membuatku mengantuk. Akhirnya aku tidur dan bangun pagi-pagi sekali untuk berolahraga. Pulang dari sana aku harus masak lagi dan membersihkan diri. Lalu berangkat ke kantor dan kehidupanku akan terus berputar seperti itu. Mungkin sampai aku menikah. 

Lalu, kadang aku muak dengan kegiatan itu. Aku ingin punya tenaga untuk melihat tempat-tempat bagus. Atau sekedar melakukan hal aneh. Tapi aku begitu lelah. Kelelahan membuatku merasa tidak memiliki daya hidup. Sampai kadang-kadang kepalaku sakit melihat layar. 

Memang.

Memang seharusnya aku memiliki banyak waktu. Untuk bekerja keras dan mencari uang lebih banyak lagi agar hidupku lebih terjamin  dan nyaman. Ini terdengar seperti kutukan. Manusia dikutuk untuk bekerja seumur hidupnya. Supaya tetap hidup dan dicintai. Tidak ada salahnya seseorang dicintai karena dia bekerja dengan giat. Orang-orang dewasa selalu menanyakan hal itu. 

Lalu aku kangen ayahku. 

Aku ingin dipakaikan sepatu saat pagi-pagi hari, dan digendong ke kamar saat mengantuk. Aku ingin naik sepeda dan terjatuh sambil menangis tersedu-sedu. Kemudian ayah memelukku dan mengobati lututku yang memar. Besoknya, ayah menyemangatiku belajar sepeda lagi. 

Aku juga ingin diberi hadiah tiba-tiba seperti halnya yang ayah lakukan kepadaku selama bertahun-tahun. Saat itu hujan lebat dengan petir yang sangat keras. Kata temanku SD, setiap ada petir seperti itu, artinya tuhan sedang marah-marah. Dari kemarahan itu, ayahku menembus derasnya hujan dengan sesuatu yang tersembunyi di balik jaketnya. Itu adalah boneka kucing, yang nantinya akan selalu kubawa kemana-mana. Meskipun  sekarang sudah hilang, entah kemana.  Mungkin hilang saat renovasi rumah, saat banjir, saat aku pindah ke Sumatra, atau saat aku tidur dan dimaling elien. 

 Aku agak cengeng kalau kangen ayahku. Tapi aku tidak menangis karena sedang di kantor dan berpura-pura menjadi orang dewasa. Kadang aku cuma ingin pulang sambil berbaring di kamar orangtuaku sampai ibu berteriak menyuruhku makan. 

Tapi perasaan ketika aku pulang ke rumah tidak menyenangkan seperti dulu. Rasanya justru seperti sedang liburan di rumah orangtuaku, menjadi asing di rumah sendiri. Oh, perasaan itu tidak lagi sama seperti dulu, tidak lagi. 

Tiba-tiba saja aku merasa bersalah kenapa saat kecil aku mendamba-dambakan bisa tinggal dengan laki-laki yang aku idam-idamkan. Aku merasa seperti tengah mendambakan sesuatu yang ambigu. Bagaimana jika laki-laki itu tidak sesayang ayahku? Ya, aku tahu kalau tidak ada yang bisa mengalahkan ayahku dalam hal menyayangiku. Tapi bagaimana jika dia tidak memperlakukanku dengan baik? Apakah aku boleh pulang? Ke rumah ayah? Itu pertanyaan yang seharusnya kutanyakan saat kita berdua sedang berada di atas kendaraan dan hujan lebat. Sebuah pertanyaan heroik sekaligus cengeng dari anak 24 tahun. 

Aku jadi sedikit membenci lagu-lagu cinta, juga enggan memikirkan bagaimana malam itu ayah menyuruhku untuk menjalin hubungan yang serius dengan seorang laki-laki. Ayahku tidak pernah membicaraan itu selama ini, juga tidak pernah membahas tentang laki-laki lain denganku. Rasanya begitu pilu mengetahui pendewasaan ini. Begitu rapuhnya hatiku. Begitu tidak siapnya aku. 

Tapi waktu memang tidak bisa dimarahi dan dipaksa berhenti. Aku hanya bisa terus berjalan melewati beberapa fase hidup yang mau tidak mau, suka tidak suka, harus kujalani. Memang beginilah hidup pada akhirnya. Semoga apa yang ada di depan tidak membuatku terus merasa menjadi perempuan yang menderita. 

Komentar

  1. Semangat yaa! Aku liat kmu dari notif threads dan stalking sampe ke sini🙃. Thank you udh buat moodku ga stress lg karna kmu positif vibes bngt anaknya❣️, walaupun kyknya mood kmu pas nulis blog ini lg nano-nano.

    BalasHapus
  2. Kamu lucu ya, saya tertawa beberapa kali ketika baca tulisannya. Barusan saya baca artikel pertama kamu, kemudian baca artikel ini yang keliatannya adalah artikel terakhir.

    Di artikel pertama 90% isi kontennya adalah perasaan inferior, saya disitu ambil kesimpulan kalau kamu termasuk orang yang jadikan kegiatan menulis sebagai media merawat hati. Itu bagus. Kamu juga masih melakukan hal yang sama di artikel terakhir kamu, walau intensitasnya udah lebih rendah, saya pikir turun ke 30%.

    Itu berarti proses pendewasaan udah berhasil bikin kamu lebih percaya diri, jadi jangan benci prosesnya: momen kamu lelah ketika banyak kerjaan, cerita cinta yang menyebalkan, rumah masa kecil yang mulai terasa asing seperti rumah teman, atau perasaan kangen ke tempat ternyaman (ayah), ya itu semua proses pendewasaan dan nyatanya itu yang bikin perasaan inferior kamu berkurang.

    Saya senang bacanya, kamu hebat. Saya doakan kamu dapat hidup yang kamu impikan dalam waktu dekat. Amin untuk kamu, dan amin untuk saya.

    Salam kenal dari follower instagram kamu,
    Pembebas (@idzism_).

    BalasHapus
  3. Km berani ya, menulis dan memilih tiap huruf, tiap kata-kata disini itu menurutku butuh keberanian. Kamu juga berani tidak menulis beberapa kata yg mgkn awalnya ingin km tulis tp krn suatu hal ga jd km cantumkan. And it’s totally fine. Terusin ya.. Ah mie ayam sepertinya enak

    BalasHapus
  4. Jadi kangen menulis, sejak disibukan dengan bekerja dan bahwa aku harus bertanggungjawab dengan masa depanku. Bahkan mungkin masa depan orang yang nanti "mungkin" akan hidup denganku. Aku sudah lupa rasanya terhanyut dengan setiap rangkain abjad yang terpaksa kumaknai.

    BalasHapus

Posting Komentar

Tinggalkan jejak di sini yuk!

Daftar Bacaan

Pikiran-pikiran pecundang

Cerita soal mengapa

Belajar menderita dari Levi Ackerman

Kalau ada yang lebih indah dari intro payung teduh, mungkin itu kamu

Ditelan rasa takut

Hal-hal yang mama tidak tahu