Postingan

Tuhan, kenapa aku kece banget?

Gambar
Perempuan gila, katanya. Aku dengan rambut se-bahu dan terurai tidak mendengarkan omongan itu. Kututup rapat-rapat pintu kamarku, juga duniaku, juga celah di antara bolongan tikus, juga lubang-lubang udara. Aku tidak lagi ingin bernapas di udara yang sama dengan orang di sekitarku. Berkali-kali ingin pergi, tapi tidak tahu kemana. Ingin sekali-sekali aku menggunakan semua uangku (yang nggak seberapa itu) untuk terbang ke pulau entah berantah dan bertemu dengan orang dengan warna kulit yang berbeda denganku.  Baru aku ingat. Beberapa waktu belakangan, mama selalu memberiku dress putih selutut. Sekejab, orang akan memandangku sebagai perempuan yang sinting dengan seragam rehabilitasi di ruanganku sendiri (yang kebetulan warnanya juga putih). "Aku butuh cinta, mama. Aku butuh dipeluk selain diriku sendiri." Entah apa yang kulakukan, entah apa yang kupikirkan. Semakin gelisah rasanya saat ada orang yang dengan terang-terangan memujiku cantik dan pintar. Setidaknya setiap hari aku...

Ragu

Gambar
Aku masih menunggu proses exfoliasi kulitku selama 10 menit. Mengingat dan membicarakan bagaimana aku setelah lulus nanti masih menjadi perkara yang menyebalkan akhir-akhir ini. Anak teknik yang menulis? Menjadi penjual buku yang ternyata tidak laku? Oh, menyedihkan sekali nasipku ini ya? Padahal juga itu belum tentu terjadi. Pasca menjadi moderator kemarin, pasca diingatkan dan ditampar soal bagaimana anak teknik seharusnya hidup, aku mulai berkaca pada diriku sendiri. Apa yang aku lakukan selama ini sia-sia? Atau salah? Atau sudah terlambat? Atau ada yang kurang? Kemudian, dengan tiba-tiba aku terkena serangan panik yang menakutkan. Seolah ada hal penting yang kulewatkan begitu saja kemarin. Tapi apa? Entahlah. Rasanya hidup memang berlari terlalu cepat dibandingkan waktu yang kupasang pada diriku sendiri. Lalu, aku melihat cermin. Menatap kedua bola mataku yang bundar seperti dua bulan yang dijejer dan direkatkan pada sebuah kepala (yang bentuknya bundar juga). Rasanya, baru kemarin...

Doa tengah malam (Bukan tulisan religi)

Gambar
05 Januari, 2022 Saat menulis ini kepalaku sedang sakit. Ada hal yang mengganggu pikiranku, banyak. Tapi tidak bisa kujelaskan di dalam halaman kosong ini. Singkat cerita, aku harus memperkenalkan diriku (lagi). Ya, perkenalkan aku "Shely yang baru" (dibaca miko). Setidaknya itu usahaku untuk benar-benar melupakan bagaimana diriku di masa lalu.  Memang benar, kalau masa lalu ada untuk jadi pembelajaran di masa depan. Tapi aku memilih untuk benar-benar membuka buku baru dan meninggalkan aku yang dulu pernah melakukan hal-hal bodoh dan egois. Setidaknya, aku egois karena hampir dengan sengaja berusaha mengakhiri perputaran bumi di diriku sendiri.  Saat pulang dari perjalanan gabutku di Ponorogo, aku melihat bulan sabit indah sekali. Benar-benar berada di atas kepalaku. Tuh kan, apa kubilang. Bahkan bulan yang tidak sempurna saja terlihat sangat indah. Oiya, nama belakangku yang "Wulandari" itu artinya bulan purnama.  Nama yang lebih indah daripada bulan sabit yang aku...

Bukan Desember Kelabu

Gambar
Sejujurnya tidak ada alasan kenapa menampilkan album Desember Kelabu Karya A.Riyanto yang dirilis tahun 1982 di permulaan paragraf ini. Hanya terlihat lucu saja. Mirip kisah hidupku beberapa tahun belakangan soalnya, haha. Setiap Desember patah hati, setiap akhir tahun harus bersedih karena beberapa hal terjadi dan melukai hatiku. Tapi akhirnya Desember tahun ini jalan hidupku lumayan berubah. Aku justru merasa damai dan menunggu terompet akhir tahun terdengar di speaker ponselku. (Di sekitar rumahku nggak ada yang meniup terompet tahun baru, jadi aku lihat di youtube) Pagi, akhir tahun, Desember yang baik, dan pertemuan panjang dengan banyak orang asing. Belum pernah aku merasa hidupku begitu tertata seperti ini. Mengerjakan sesuatu sampai lupa waktu, berbincang dengan teman baru, membaca buku dengan genre yang berbeda, keluar rumah dan melihat sekeliling dengan perasaan lega.  Akhir tahunku ini mulai memberi sinyal cukup baik, ya setidaknya baik untuk hidupku sendiri. Kalau boleh...

Perpisahan

 Aku tahu mungkin ini kejadian yang kamu inginkan. Setelah kupikir lebih dalam, kulihat dengan seksama, semua yang terjadi di hari belakang hanya menggambarkan kata renggang. Kamu bersikap seolah agar aku melepaskanmu. Setiap kali aku bertanya kenapa, kamu bilang kamu baik-baik saja. Padahal jelas, hubungan ini bukan hanya sekedar bahagiamu, tidak hanya urusan aku yang mengerti soal sibukmu, atau pemahaman lain tentang sikapmu yang menyakitiku.  Lantas semua bisa secepat cahaya berubah. Kamu yang dulu enggan kehilangan aku, jadi merasa tak apa kalau aku tiada. Seolah bahagiamu sudah cukup tanpa aku dipelukmu. Ya, memang. Untuk saat ini kuakui rasanya memang begitu. Seolah di hatimu sudah tidak lagi ada cinta. Semua yang kulihat di sana hanya tatapan hampa seorang laki-laki yang bersiap pergi.  Aku tentu sakit. Tapi kali ini tidak terkejut. Sebaik apapun kamu utarakan, perpisahan tetap menyakitkan. Bukan karena aku yang tak berdaya kehilanganmu, bukan juga hidupku akan ber...

Surat untuk dia, juga perjanjian atas diriku sendiri

 Entah karena keegoisanku, atau keadaan yang harus membuatku jadi merasa seperti ini. Tapi memang ada baiknya, ketika hati tidak lagi merasa aman, hal-hal kecil dari sekitar bisa lebih terasa dalam. Beberapa waktu lalu, aku merasa benar-benar hancur. Bahkan aku seperti tidak menjadi diriku sendiri. Orang yang kusayangi sepenuh hati ternyata lelah karena sikapku.  Sejujurnya, saat itu aku yang salah. Karena terus-menerus marah. Membuat semuanya jadi terasa lebih berat. Padahal, yang aku butuhkan cuma perhatian.  Saat itu, aku merasa gagal menjadi seorang perempuan. Menjadi pendamping orang yang ingin kuhebatkan. Padahal, dulu saat aku berusaha memilih, aku bersikeras untuk memilih dengan teliti, melihat seksama kira-kira laki-laki ini, apakah dia bisa menjadi hebat? Tapi, yang kulakukan beberapa waktu belakangan memang sudah keterlaluan. Seolah kehilangan diriku sendiri. HIngga, dia jadi berpikir untuk jalan sendiri-sendiri.  Aku benar-benar terkejut. Merasa begitu ka...

Bising

Ada beberapa hal yang membuatku merasa bising. Soal bagaimana aku nanti bisa bertahan di kehidupan yang serba cepat ini? Bagaimana aku mampu memperoleh pekerjaan yang layak? Bagaimana cara supaya menghindari rasa malas yang kualami sekarang ini? Dan masih banyak lagi. Rasanya pandemi semakin hari justru semakin menjadi-jadi. Seolah tak pernah selesai dan selalu menyebalkan. Di rumah, aku hanya melakukan pekerjaan yang membosankan. Bahkan, beberapa waktu terakhir, kecamatanku sudah memasuki zona merah. Banyak korban jiwa akibat covid 19 ini. Ah, entahlah kapan ini akan berakhir. Seolah dunia hanya berputar seperti ini saja. Tidak kemana-mana. Padahal, ketika di rumah, aku menjadi sangat malas dan kehilangan motivasi. Bagaimana supaya aku bisa menjadi lebih baik kalau seperti ini? Saat di rumah, moodku sering tidak baik. Selalu sensitif dengan hal-hal kecil dan gampang marah. Aku merasa banyak hal yang bisa menyakiti hatiku dan itu benar-benar menyiksa. Aku jadi takut akan hal yang terja...