Anak kecil yang bahagia dengan mimpi-mimpinya

 Aku tidak begitu yakin apakah suatu hari aku bisa pergi ke Jepang. Hahahaha. Habisnya, setiap kali aku menginginkan sesuatu, terlalu ingin, biasanya aku tidak bisa meraih itu. Mungkin, sampai mati aku akan selalu hidup dalam impian-impian yang sudah kutumpuk-tumpuk di kepalaku sejak kecil. Bagaimana rasanya menjadi penulis yang bukunya dibaca banyak orang, bagaimana rasanya bisa jalan-jalan sesuka hati, bagaimana rasanya bisa melihat salju, bagaimana rasanya makan makanan unik dari berbagai tempat yang kukunjungi. Kalau aku cerita ke ayah, pasti dia bilang pasti aku bisa meraih semua itu. Masalahnya, dia sama sekali tidak membantuku. Bukan seperti ayah-ayah temanku yang langsung menyediakan semuanya. Ayahku hanya punya rasa percaya dan semangat saja. Tapi aku begitu menyayanginya. 

Kembali ke pembahasan Sapporo. Mungkin karena aku dasarnya wibu, jadi aku merasa begitu bersemangat melihat kota itu. Dengan siapapun, aku ingin membahas dan merencanakan kunjungan ke sana. Meskipun entah kapan itu terjadi, apakah sempat, apakah benar-benar bisa ke sana, atau sampai mati aku belum bisa mewujudkan itu. Tak masalah. Umur 25 dan masih hidup dengan banyak impian itu masih terdengar cukup bagus. Dibandingkan tidak memiliki sesuatu yang harus diperjuangkan. 

Dan hari ini aku bangun siang, aku langsung melihat beberapa pemberitaan tentang dimulainya perang. Sedih sekali rasanya. Aku pernah bekerja di salah satu penerbit buku di Jogja yang menerbitkan buku tentang dampak-dampak perang. Begitu mengerikan dan membuat banyak orang menderita. Jika dunia memang akan serusak itu, apakah di masa depan masih worth it untuk melahirkan seorang anak? Aku jadi memikirkan itu juga. Meskipun aku suka sekali dengan bayi-bayi (kecuali saat mereka berak), sepertinya aku juga harus memikirkan kehidupannya di tahun-tahun ke depan. Lebih baik tidak terlahir di dunia dari pada harus hidup di bumi yang rapuh dan rusak seperti ini. Ini sebagai wujud rasa sayangku yang begitu besar. Mungkin benar kata seseorang, sebenarnya aku sangat mencintai anak-anak. tetapi berceloteh dan berbuat sok-sokan villain karena gengsi. 

Nanti, kalau pada akhirnya aku akan dinikahi oleh seseorang, dan mendapatkan keluarga yang baik, aku akan lebih memperhatikan anak-anak yang kurang beruntung di sekitarku. Aku sempat berbincang dengan salah satu anak magangku dulu yang ibunya seorang aktivis di salah satu panti asuhan, sepertinya aku mulai berpikir untuk menyisihkan beberapa uang yang kupunya untuk melakukan hal yang sama seperti ibunya. Mungkin karena keputusan ini juga berlatar belakang karena pertanyaan "Saat dunia ini hampir berakhir, apa yang akan kamu lakukan untuk menunggu detik-detik kehancurannya?" Dan aku menjawab ingin menghabiskan waktu bersama dengan anak-anak. 

Atau ketika nanti aku gagal menikah. Aku akan mulai melakukan banyak hal yang kubisa untuk lebih memperhatikan anak-anak di sekelilingku. Meskipun aku tahu kalau aku tidak begitu banyak uang, tapi uangku yang sekarang mungkin akan cukup untuk menebus rasa bersalahku kepada diriku sendiri di masa kecil. Supaya ia mulai menerima semua hal-hal buruk tanpa terus menyalahkan seseorang. 

Aku ingin berhenti membenci seseorang. Aku ingin berhenti menangis setiap kali teringat hal-hal buruk yang pernah kualami saat kecil. Aku ingin mengembalikan kepercayaan diriku bahwa orang-orang dewasa tidak melulu jahat dan menyembunyikan  kelicikan di balik kebaikan-kebaikannya. Semoga hal kecil yang kulakukan ini pelan-pelan akan menyembuhkanku, dan diriku di masa kecil akan memaafkan aku. 

Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maaafkan orang tua kita, maafkan guru-guru kita, maafkan orang-orang dewasa yang dulu melukaimu. Aku benar-benar minta maaf atas semua hal yang telah terjadi. Jadi sebisa mungkin tak kubiarkan anak-anak lain merasakan hal itu. 

Tidak apa-apa Shely, tidak apa-apa. Tidak perlu menyalahkan diri sendiri, kenapa kita masih menyimpan rasa benci itu, masih menjadi seseorang yang suka marah-marah dan mengumpat atas hidup yang menyebalkan ini. Aku menyayangimu dari semua ketidaksempurnaan kita. Tidak apa-apa kalau kita merasa menyesal, sedih, marah, kecewa, dan benci. Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. 

Tahun ini usiaku 25 tahun. Lalu kamu adalah anak kecil yang bingung. Tidak apa-apa kalau ada orang lain yang bilang kita mengecewakan. Tidak apa-apa kalau ada orang yang menyalahkan kita atas semua kegegagalan hidup ini. Tidak apa-apa kalau kita tidak mengetahui sesuatu meskipun kita sudah sering membaca buku-buku. Tidak apa-apa kalau kita tidak meraih semua impian-impian yang kita tulis saat itu. Tidak apa-apa kalau suatu hari kita dicampakan. Tidak apa-apa kalau kita membuat seseorang terluka, padahal kita tidak bermaksud melakukan itu. Tidak apa-apa kalau kita dicap sebagai orang yang kurang baik. 

Anak-anak tetaplah anak-anak. Aku begitu menyayangi anak-anak, semua anak-anak. Yang di sekitarku, ataupun yang bersembunyi di diriku sendiri. Semoga dengan kedua tangan kecil kita yang sering ceroboh ini, kita bisa menghidupkan cahaya di kehidupan anak-anak yang lain. Meskipun hanya berdampak ke beberapa detik di hidup mereka, meskipun mereka akan melupakan kita, meskipun pada akhirnya tidak berdampak apa-apa, tapi kita sudah berusaha dengan hal yang kita bisa untuk menyalakan cahaya anak-anak. 

Demi kehidupan anak-anak yang masih polos, demi pemikiran yang belum bercampur dengan curiga-curiga,demi kebaikan yang tulus, demi ucapan yang menyenangkan, dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat bingung, demi ketakutan akan monster-monster jahat dan hantu siang bolong, demi rasa nafsu makan yang besar, demi petualangan yang tidak pernah habis, demi imajinasi yang indah sebelum diracuni dengan sex, demi semua hal yang melekat pada anak-anak. 

Kita harus mulai berdamai dengan semua ini. Kita harus berusaha memaafkan mereka semua agar kehidupan kita lebih baik. Kita harus bisa menjalani hari-hari yang tidak dipenuhi oleh tekanan-tekanan kebencian yang tertimbun di masa lalu.

Aku mengerti kalau ini tidak akan pernah mudah. Rasa sedih itu tertimbun begitu dalam, begitu lama. Tapi bukan berarti tidak mungkin untuk membongkarnya sedikit-demi sedikit. Demi aku sendiri di umur 25, dan demi anak kecil yang seharusnya bahagia dengan mimpi-mimpinya. 

Komentar

Daftar Bacaan

Pikiran-pikiran pecundang

Benda kesayangan dan anak-anak yang bingung

Membaca lembaran rasa lelah

Perpisahan

Bagaimana cara membuat orang jatuh cinta? Sebuah tulisan yang cocok dibaca anak SMA

Bukan Desember Kelabu