Postingan

Bukan Desember Kelabu

Gambar
Sejujurnya tidak ada alasan kenapa menampilkan album Desember Kelabu Karya A.Riyanto yang dirilis tahun 1982 di permulaan paragraf ini. Hanya terlihat lucu saja. Mirip kisah hidupku beberapa tahun belakangan soalnya, haha. Setiap Desember patah hati, setiap akhir tahun harus bersedih karena beberapa hal terjadi dan melukai hatiku. Tapi akhirnya Desember tahun ini jalan hidupku lumayan berubah. Aku justru merasa damai dan menunggu terompet akhir tahun terdengar di speaker ponselku. (Di sekitar rumahku nggak ada yang meniup terompet tahun baru, jadi aku lihat di youtube) Pagi, akhir tahun, Desember yang baik, dan pertemuan panjang dengan banyak orang asing. Belum pernah aku merasa hidupku begitu tertata seperti ini. Mengerjakan sesuatu sampai lupa waktu, berbincang dengan teman baru, membaca buku dengan genre yang berbeda, keluar rumah dan melihat sekeliling dengan perasaan lega.  Akhir tahunku ini mulai memberi sinyal cukup baik, ya setidaknya baik untuk hidupku sendiri. Kalau boleh...

Perpisahan

 Aku tahu mungkin ini kejadian yang kamu inginkan. Setelah kupikir lebih dalam, kulihat dengan seksama, semua yang terjadi di hari belakang hanya menggambarkan kata renggang. Kamu bersikap seolah agar aku melepaskanmu. Setiap kali aku bertanya kenapa, kamu bilang kamu baik-baik saja. Padahal jelas, hubungan ini bukan hanya sekedar bahagiamu, tidak hanya urusan aku yang mengerti soal sibukmu, atau pemahaman lain tentang sikapmu yang menyakitiku.  Lantas semua bisa secepat cahaya berubah. Kamu yang dulu enggan kehilangan aku, jadi merasa tak apa kalau aku tiada. Seolah bahagiamu sudah cukup tanpa aku dipelukmu. Ya, memang. Untuk saat ini kuakui rasanya memang begitu. Seolah di hatimu sudah tidak lagi ada cinta. Semua yang kulihat di sana hanya tatapan hampa seorang laki-laki yang bersiap pergi.  Aku tentu sakit. Tapi kali ini tidak terkejut. Sebaik apapun kamu utarakan, perpisahan tetap menyakitkan. Bukan karena aku yang tak berdaya kehilanganmu, bukan juga hidupku akan ber...

Surat untuk dia, juga perjanjian atas diriku sendiri

 Entah karena keegoisanku, atau keadaan yang harus membuatku jadi merasa seperti ini. Tapi memang ada baiknya, ketika hati tidak lagi merasa aman, hal-hal kecil dari sekitar bisa lebih terasa dalam. Beberapa waktu lalu, aku merasa benar-benar hancur. Bahkan aku seperti tidak menjadi diriku sendiri. Orang yang kusayangi sepenuh hati ternyata lelah karena sikapku.  Sejujurnya, saat itu aku yang salah. Karena terus-menerus marah. Membuat semuanya jadi terasa lebih berat. Padahal, yang aku butuhkan cuma perhatian.  Saat itu, aku merasa gagal menjadi seorang perempuan. Menjadi pendamping orang yang ingin kuhebatkan. Padahal, dulu saat aku berusaha memilih, aku bersikeras untuk memilih dengan teliti, melihat seksama kira-kira laki-laki ini, apakah dia bisa menjadi hebat? Tapi, yang kulakukan beberapa waktu belakangan memang sudah keterlaluan. Seolah kehilangan diriku sendiri. HIngga, dia jadi berpikir untuk jalan sendiri-sendiri.  Aku benar-benar terkejut. Merasa begitu ka...

Bising

Ada beberapa hal yang membuatku merasa bising. Soal bagaimana aku nanti bisa bertahan di kehidupan yang serba cepat ini? Bagaimana aku mampu memperoleh pekerjaan yang layak? Bagaimana cara supaya menghindari rasa malas yang kualami sekarang ini? Dan masih banyak lagi. Rasanya pandemi semakin hari justru semakin menjadi-jadi. Seolah tak pernah selesai dan selalu menyebalkan. Di rumah, aku hanya melakukan pekerjaan yang membosankan. Bahkan, beberapa waktu terakhir, kecamatanku sudah memasuki zona merah. Banyak korban jiwa akibat covid 19 ini. Ah, entahlah kapan ini akan berakhir. Seolah dunia hanya berputar seperti ini saja. Tidak kemana-mana. Padahal, ketika di rumah, aku menjadi sangat malas dan kehilangan motivasi. Bagaimana supaya aku bisa menjadi lebih baik kalau seperti ini? Saat di rumah, moodku sering tidak baik. Selalu sensitif dengan hal-hal kecil dan gampang marah. Aku merasa banyak hal yang bisa menyakiti hatiku dan itu benar-benar menyiksa. Aku jadi takut akan hal yang terja...

Hari menjadi diri sendiri

Hari ini, hari kamis. Pagi sekali aku bangun, tumben. Biasanya harus bertengkar dengan mimpi-mimpi yang belum sempat kuamini. Sesekali, aku merasa sedang berada di ruang kosong dengan duduk bersila menatap jendela. Iya, itulah sekatku dengan dunia. Aku bertanya-tanya soal kehidupan ini. Apakah dunia memang berlari secepat itu? Bagaimana bisa satu raga ini dipaksa melakukan ini itu? Harus ikut ini, harus bisa itu. Kadangkala, aku bingung dengan hari yang terus melaju. Apa orang akan selalu berlomba-lomba? Apa tidak bisa tenang sebentar saja? Apa harus semuda itu untuk bisa memiliki apa-apa?  Timing orang katanya berbeda-beda. Semua orang sudah paham kata-kata klise itu. Tetapi, nyatanya kita masih sering dipertanyakan tentang 'kapan'. Kapan lulus? Kapan nikah? Kapan punya rumah? Kapan punya mobil? Dan seterusnya. Kenapa harus dipertanyakan sedetail itu? Kenapa seolah membuat oranglain terburu-buru. Harus benar-benar melakukan ini itu. Harus menjadi ini di umur segini. Harus puny...

Setiap kali menulis, sebenarnya aku..

Gambar
Setiap ingin menulis sesuatu, rasanya ada ketakutan yang engga bisa aku kendalikan. Jujur, aku sangat takut. Aku takut jika orang yang membaca tulisanku  bilang "Lah, kayak gini aja ditulis sih, lebay banget" atau hal-hal lain yang membuatku kehilangan percaya diri lagi. Atau jika ada hal yang membuatku tertekan, kemudian aku sangat ingin menulisnya, aku masih takut kalau orang yang membaca nanti justru malah membully aku karena dianggap lemah. Di samping itu, aku juga takut kalau ada orang yang jauh lebih pintar dari aku tiba-tiba membaca di halaman pertama kemudian dia bilang "Ah, pemikirian receh kayak gini cuman jadi sampah aja deh". Aku takut, aku takut kalau ada orang terdekatku yang membaca tulisanku lalu mereka bilang "Idih, sok bijak banget sih Lo!" Aku masih takut semua itu.  Jadi, seringkali aku berhenti di tengah-tengah paragraf dan tidak melanjutkan tulisanku karena aku takut dengan semua bayangan yang ada di kepalaku sendiri. Aku masih merasa...

Umur 19 Tahun? Aku Harus Apa?

Gambar
  Ya Allah, aku hari ini 19 tahun. Tepat di hari ini banyak banget hal yang terjadi. Mulai dari perasaan takut, perasaan seneng, perasaan sedih, dan berjuta perasaan lain yang akan aku jabarin satu persatu di sini. Pertama, baru kali ini aku berani buat snapgram tentang ulangtahunku. Biasanya aku engga pernah berani. Karena sebenarnya aku selalu takut ulangtahun. Aku takut kalo umurku perlahan habis, tapi aku masih ngerepotin siapa-siapa. Aku takut kalo aku semakin tua sedangkan aku belum bisa ngasih yang terbaik buat Allah, buat diri sendiri, buat oranglain. Aku masih sering ngambek sama orangtua, masih sering nyakitin Allah karena males ibadah, aku juga sering ngrepotin oranglain karena kinerja di organisasi yang carut-marut gara-gara aku. Aku benar-benar belum bisa ngasih yang terbaik buat semuanya. Aku masih sering nyakitin banyak orang, sering lupa engga sholawat sama Rosulullah. Sering bikin sakit hati oranglain. Sering lalai baca alquran. Sering nangis. Sering ngeluh. Sering...