Hari menjadi diri sendiri
Hari ini, hari kamis. Pagi sekali aku bangun, tumben. Biasanya harus bertengkar dengan mimpi-mimpi yang belum sempat kuamini. Sesekali, aku merasa sedang berada di ruang kosong dengan duduk bersila menatap jendela. Iya, itulah sekatku dengan dunia. Aku bertanya-tanya soal kehidupan ini. Apakah dunia memang berlari secepat itu? Bagaimana bisa satu raga ini dipaksa melakukan ini itu? Harus ikut ini, harus bisa itu. Kadangkala, aku bingung dengan hari yang terus melaju. Apa orang akan selalu berlomba-lomba? Apa tidak bisa tenang sebentar saja? Apa harus semuda itu untuk bisa memiliki apa-apa?
Timing orang katanya berbeda-beda. Semua orang sudah paham kata-kata klise itu. Tetapi, nyatanya kita masih sering dipertanyakan tentang 'kapan'. Kapan lulus? Kapan nikah? Kapan punya rumah? Kapan punya mobil? Dan seterusnya. Kenapa harus dipertanyakan sedetail itu? Kenapa seolah membuat oranglain terburu-buru. Harus benar-benar melakukan ini itu. Harus menjadi ini di umur segini. Harus punya ini, ini, ini. Padahal sejujurnya kita sendiri tidak paham, yang menjadi tujuan sebenarnya apa?
Dulu, dengan bangganya aku berani bermimpi, bercita-cita tinggi, menuhankan rencana, dan justru memperbudak tuhan. SEolah rencanaku itu yang paling indah, rencana itu yang terbaik. ketika akhirnya aku tidak mendapatkan apa yang kuinginkan, aku menanyakan keadilan tuhan. Oh, begitulah ketololanku.
Setiap kali aku merencanakan, aku selalu tidak mendapatkannya. Barangkali, itu yang membuatku merasa harus berhenti berencana. Aku merasa, yang diberikan padaku adalah yang terbaik, selagi kita mencoba kesempatan dan melakukan hal-hal baik. Aku tau, dunia ini memang tidak bisa terus menerus dikejar. Karena kenikmatan yang secuil itu sering membuatku lupa, kalau yang sebenarnya bahagia itu bukan soal harta.
Sekarang, aku masih di depan laptop. Mengetik sesuatu yang sangat klise, tetapi tak pernah lulus dihidupku. Aku sadar, semakin dewasa semakin merasa banyak yang membuatku menjadi berbeda. Bahkana, dunia pun ikut berbeda bukan? Tulisan juga sudah mulai menemukan karakternya. Tetapi aku selalu ingin melihat bagaimana aku bisa berproses di tahun-tahun selanjutnya. Tanpa ada paksaan apa-apa. Tanpa menyakiti diriku sendiri seperti hari lali. Aku tahu, sejak aku mendapatkan banyak kejadian itu, ambisiku tentang sesuatu jadi berubah. Jadi lebih bisa menerima keadaan, jadi lebih tau kalau sesuatu tidak harus seperti yang diharaokan.
Di beberapa kesempatan, aku dipertemukan dengan orang baru. Tetapi semakin hari, aku semakin enggan bertemu dengan orang yang baru lagi. Entahlah, mungkin karena aku tidak mau sakit hati. Aku tau itu tidak baik, jadi aku pelan-pelan mulai membuka diri. Iya, pelan sekali tetapi tak mengapa. Semua tidak harus jadi sesuatu yang berharga saat itu juga.
jadi, aku berbincang banyak dengan teman lama. Ternyata, banyak dari mereka sudah punya pemikiran yang berbeda. Rasanya memang lebih nyaman, lebih memiliki tujuan. Serasa seperti seekor bebek bertemu kawanan bebek. Sangat serasi dan asyik membahas hal-hal yang sesuai mimpi. Mereka kuat, itu yang kutangkap. Hari-hari mungkin sudah menempanya berkali-kali.
Kini tinggal aku dan tulisanku. Membuat segala yang terjadi di bumi berangsur membaik. Meski masih ada juga hal lain yang belum bisa disembuhkan, tak mengapa. Aku bisa mengobatinya perlahan.
Selamat Hari menjadi diri sendiri Shely! Selalu ingat halaman ini kalau sedang merasa sendiri.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan jejak di sini yuk!