Apa jadinya kalau aku dinikahi oleh laki-laki yang BAIK
Kalau dipikir-pikir, aku ini cuma perempuan desa. Perempuan kampung yang kebetulan punya ayah baik dan mau menyekolahkan sampai sarjana dengan segala keterbatasan dan ketidaktahuan. Jatuh cinta adalah hal mewah yang seharusnya tidak perlu begitu aku pusingkan. Ada yang mau saja untung. Atau barangkali, itu seharusnya tidak perlu ada di pikiran; toh kata orang, perempuan itu penuh keterbatasan dan kekurangan. Jangan hanya berangan-angan atau memimpikan apapun, apalagi bercita-cita, atau menjalankan hobi! Tidak akan! Setelah jatuh cinta nanti, kita akan bodoh dan hidup sengsara.. menderita. Dan begitulah, akhirnya semua pendidikan dan usahaku untuk semuanya sia-sia. Karena laki-laki yang tiba-tiba datang dan merebut segala hal yang sudah susah payah dibangun olehku sendiri, dan oleh ayahku. Maka aku membenci laki-laki dan berpikir untuk tidak menikah. Karena di sekitarku, aku harus dituntut untuk melayani dan mengorbankan hidupku agar ada nyawa lain yang lebih tinggi kedudukannya itu bisa senang. Aku akan dientot dan dijadikan babu. Aku akan dipaksa hidup pas-pasan dan melakukan ritual-ritual yang ketat agar orang lain menganggapku perempuan yang baik. Lalu aku harus memakai sesuatu atas izin laki-laki. Aku harus mati-matian membuat diriku sendiri benar-benar objek yang bikin dia senang dan sange. Susuku harus besar, kulitku harus putih mulus tanpa jerawat, bodyku harus bohai, aku harus berwajah cantik, dan desahanku harus enak. Persetan aku akan diberi makan atau tidak. Pokoknya, dengan segala kemlaratan ini, entah bagaimana caranya aku harus terlihat seperti itu di depan suami. Aku tidak boleh berpikir dan tidak boleh protes. Karena perempuan yang terlalu pintar dan suka melawan itu berbahaya. Tidak sopan! Dan buku-buku yang kubaca itu ah!! Itu pemikiran orang barat yang kafir!! Itu hanya tumpukan sampah orang-orang kafir! Yang penting perempuan jago membaca kitab suci, ya meskipun tidak tahu artinya, itu tetap mendapatkan pahala yang sangat besar dan menyejukkam hati. Juga memakai pakaian yang sangat tertutup sampai tidak ada sehelai pun yang terlihat apabila keluar rumah. Ingat!! Jangan memakai wewangian dan harus sabar kalau dipukul-pukul! Yang penting kan nggak mati! Kalau tidak dipukul dan dihantam dengan kayu, perempuan akan menjadi sebab masuknya neraka seorang laki-laki. Tentu ia tidak harus melakukan hal lain selain berberes rumah, bekerja, masak, hamil anak laki-laki, melahirkan dengan normal, menyusui tanpa bantuan susu formula, mematuhi ibu mertua, menjadi pelacur bagi suaminya setiap hari, bersabar, puasa jika suami tidak becus mencari uang, dan beribadah dengan rajin. Kalau tidak? Ya pukul saja sampai dia meminta ampun! Pukul! Pukul asalkan tidak sampai mati!
Lalu aku meludah dengan ketus ke bayangan itu. Najis sekali. Apa bagusnya melakukan hal-hal seperti itu di sisa hidupku yang entah sampai kapan ini (aku menulis ini karena stress melihat berita kebakaran hutan dan putus asa akan masa depan bumi). Dan kemudian bayangan aku akan dipukul dan dihajar habis-habisan karena aku lupa tidak sembahyang pun muncul di pikiranku. Aku akan tewas mungkin setelah menjalankan ibadah di sore hari karena lupa tidak mendoakan suami. Kepalaku mungkin akan dibenturkan ke tembok dan dilempar gas lpg subsidi yang dibeli hutang di warung sebelah. “Titisan setan! Nanti kau akan menyebabkan aku susah masuk surga! Pelacur!”
Dan aku kehilangan kemampuanku membela diri, karena aku sudah dibunuh saat pertama kali ikatan janji itu terucap. Dan begitulah kebodohan yang mengerikan itu. Kebodohan yang mungkin akan kulakukan dan kusesali seumur hidupku. Aku akan membenci diriku sendiri dan membenci semua laki-laki. Jika kutemui seorang laki-laki di saat seperti itu, akan kuludahi mukanya sambil membayangkan surga yang dijanjikan oleh suamiku.
Oh tuhan, kenapa begitu tidak adil.. kenapa aku tidak terlahir menjadi laki-laki soleh yang bisa beristri empat dan mengkafir-kafirkan orang saja. Kurasa itu akan lebih mudah untukku. Aku tidak akan mengeruk tambang dan membakar hutan untuk dijadikan kebun sawit, aku janji. Aku hanya ingin menikmati keindahan dunia yang memang diciptakan sangat ideal untuk laki-laki. Aku ingin tertawa sambil menjambak rambut istri ketigaku. Dan meringis keenakan karena istri keempatku. Enak sekali rasanya melakukan kejahatan dengan otak tolol dan keyakinan akan kepastian surga. Enak sekali.
(Tulisan ini muncul saat aku marah mengingat beberapa kali dilecehkan secara verbal oleh laki-laki yang bernama “shaleh dan muslim” di media sosial. Juga kemarahanku saat beberapa kali ada laki-laki kasar agamis yang memaksaku untuk taaruf di instagram. Bahkan ada yang sudah menikah dan memiliki dua anak, kemudian mengajakku menjadi istri kedua dengan dalih karena dia seorang ustadz. Juga luka-luka lamaku yang dimanipulasi oleh beberapa orang dengan menjadikan agama sebagai alat. Aku menulis ini sambil membayangkan apa jadinya kalau aku menikah dengan laki-laki seperti itu. Pasti akan sangat menakutkan. Semoga tidak lagi ada orang-orang bodoh yang membela korban kekerasan dan pelecehan seksual, semoga tidak lagi ada orang-orang jahat yang dilindungi karena alasan agama.)
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan jejak di sini yuk!