Cerita sebelum tidur

Aku merasa tidak terlalu pandai menulis sesuatu yang bisa bermanfaat untuk orang lain. Seperti kalimat-kalimat penenang, penyemangat, atau hal-hal sejenisnya. Selama ini, yang kulakukan hanya menulis semua yang ada di otakku. Atau saat aku merasa  hilang waras, aku mencoba menulis sesuatu, kemudian aku bisa menangis kencang-kencang dan makan lebih banyak ayam.

Sejak kecil, aku sangat menyukai menulis. Surat-suratan dengan seseorang terasa sangat menyenangkan. Aku juga sering menulis sesuatu tentang orang yang kusukai secara diam-diam di sebuah buku yang ada gemboknya. Ah, aku lupa menaruhnya dimana. Tapi diam-diam aku menyukainya. Orang itu. Dia anak pendiam yang kulitnya cerah. Pandai mengaji, bisa bahasa inggris, punya selera humor yang bagus, dan yang paling penting.. dia laki-laki pendiam. Aku selalu suka dengan laki-laki pendiam. Semua laki-laki yang banyak bicara membuatku lelah. Jadi melihat laki-laki pendiam membuatku punya kekuasaan penuh untuk memimpin jalannya percakapan. Dan dia seperti itu, aku tidak tahu apakah itu cinta atau bukan. Tapi aku suka melihat matanya yang indah dan caranya bermain kelereng. Dia juga pernah bilang kalau rambutku bagus. Dan ibunya bilang kalau aku anak yang cerdas dan manis. Jadi, kupikir aku potensial untuk berpacaran dengan dia di masa depan. Tetapi ternyata dia tumbuh jauh dari apa yang kubayangkan dan itu membuat semua perasaanku lenyap entah kemana.


Aku kurang pandai mendiskripkan bagaimana perasaanku jika ada orang bertsnya secara langsung. Tetapi aku mengoceh sana-sini sampai lupa waktu kalau diberi kesempatan berbicara asal-asalan. Aku sering bercerita tentang apa yang kualami, dan aku benci kenapa aku selalu mengalami hal-hal aneh. Juga bertemu dengan orang-orang yang aneh. Jadi ketika aku bercerita kepada orang normal, mereka akan mengira aku berbohong. Hei, aku juga tidak percaya kenapa aku mengalami itu! 


Mantanku dulu, waktu aku menangisi mantanku yang lain.. maksudnya, posisinya dia belum menjadi kekasihku, dan aku masih galau pada saat itu. Dia bilang, aku pandai bercerita. Dia tahu kalau ingatanku kadang terbatas, jadi dia sering tidak mempercayaiku. Padahal aku hanya bilang kalau aku masih ingat hari dimana ibu mulai menyapihku. Aku masih punya potongan moment itu karena bagiku itu sedih sekali. 

Tapi dia hanya tertawa dan menganggap itu usahaku ngelucu supaya dia suka. Jujur aku semakin kesal melihat wajahnya. 


Aku mengingat hal-hal sedih. Kemudian menertawakannya di kemudian hari. Dalam beberapa hal, kadang aku masih menangis sih, tetapi sekarang sudah jarang sekali. Aku lebih sering menangisi orang lain, karena kalau dipikir-pikir hidupku ini sudah  cukup mudah. 


Ah, aku ingin sekali bercerita sebelum tidur. Tapi aku tidak tahu cerita apa. Jujur aku benci saat ayahku pertama kali menolak permintaanku untuk menceritakan dongeng sebelum tidur. Itu kelas 3 SD. Katanya aku sudah cukup dewasa untuk mendengar dongeng. Tetapi anehnya, katanya aku masih anak kecil kalau aku ingin meminta motor🗿 itu agak janggal. Kenapa dulu aku ingin sekali punya motor hahahaha, padahal saat itu mungkin tinggiku tidak lebih dari tingginya songkok orang NU. 


Aku pernah mencuri jambu bersama temanku saat SD. Aku tidak tahu kalau pohon jambu itu milik guruku ngaji. Jadi saat aku sudah di atas pohon, kami ketahuan dengan cara yang paling memalukan.  “Astagfirullahaladziim.” Rasanya kalimat itu mengutukku dan mengubahku menjadi monyet tanpa etika dan akal. Runtuh sudah kepribadian anak baik yang kubangun selama ini hanya karena sebuah jambu kecut yang bajingan itu! Sorenya, aku dijewer oleh nenekku dan harus mandi dengan air dingin karena ibuku tidak mau merebuskan aku air hangat.


Aku menangis sambil menggigil. Itu tidak enak sekali. 


Oh tuhan, tiba-tiba aku kangen dengan masa kecil yang penuh kesusahan itu. Hal yang sangat tidak nyaman yang bisa kubayangkan tentang masa kecilku adalah.. ada banyak orang-orang yang kini sudah meninggal. Dan aku tidak akan mendopatkan moment yang sama seperti dulu saat aku masih kecil. Tidak tahu apakah itu menyenangkan atau tidak, karena saat kuingat dulu aku bisa tertawa lepas, dan kini pun aku masih bisa. Hidupku penuh dengan komedi dan tertawa. Aku harap aku akan terus hidup dengan cara seperti ini sampai aku mati. 


Jadi selamat malam atas hal-hal yang sudah terjadi selama aku di Jogja. Aku ingin mengucapkan salam kepada siapa saja di seluruh dunia. Apa aku ini sebenarnya pantas menjadi pejabat ya? Karena aku tidak suka membakar hutan dan merepotkan orang lain. Yah, itu hal konyol. Aku tidak mungkin ada dalam lingkungan yang kaku seperti itu. Kuharap semua hal-hal yang biasa saja ini akan lebih bermakna dan berbahagia setelah ini. Aku ingin menjalani hidup dengan lebih baik setiap hari.

Komentar

Daftar Bacaan

Celotehan bayi dewasa

Benda kesayangan dan anak-anak yang bingung

Membaca lembaran rasa lelah

Pikiran-pikiran pecundang

Perasaan kecewa yang konyol, dan hayalan masa muda yang aneh

Anak kecil yang bahagia dengan mimpi-mimpinya

Hidup ini memang menyebalkan, tapi aku harus tetap hidup