Ditelan rasa takut

Mungkin aku akan menyesal seumur hidup dengan keputusan ini, atas begitu banyak ketakutan dan keegoisanku. Mungkin, aku akan menangisi tulisan ini di sudut ruangan dengan  badan yang ditimpa penyesalan suatu hari. Mungkin aku akan menemukan banyak hal-hal yang membuatku ingat betapa aku sangat pengecut dan takut. Lalu, aku menyalahkan kehidupan dan mengemis seperti tidak tahu malu kepada tuhan agar bisa dilapangkan rasa sakitnya. Mungkin aku akan menjadi orang dengan banyak penyesalan sampai aku mati. 

Aku tidak terlalu pandai menjalani hidup dan selalu bingung dengan banyak hal, tapi dulu aku bisa melewatinya. Aku berhasil menjalani hidup menderita, sebagai orang miskin, sebagai orang pelosok, sebagai orang bodoh yang tidak mengerti banyak hal, dan sebagai bahan bersyukur orang lain. Aku bisa. Aku bisa melewati banyak hal sebelum ini. Tapi ketika aku harus dihadapkan dengan pilihan yang satu ini, rasanya aku tidak pernah mampu. Aku tidak pandai memahami diriku sendiri, juga memahami perasaan orang lain. Aku tidak bisa melakukan sesuatu yang seharusnya, karena aku bahkan tidak tahu apa yang harus kulakukan. 

Kupikirkan selalu, terus-menerus sampai dia menggerogoti tubuhku. Semua hanya berhenti di pikiranku, mengendap dan menjadi sesuatu yang membuatku semakin terlihat goblok. Kenapa seseorang bisa jatuh cinta  dengan perempuan goblokkkkk! 

Lalu aku mulai menelaah apa yang salah dengan dirku sendiri. Selain bobroknya Indonesia yang tergambar jelas di usiaku, juga kebingungan yang tidak berujung, dan banyak saran-saran yang tidak mampu kulakukan. Mungkin memang aku bebal, mungkin aku  begitu egosi dan merasa takut, mungkin aku tidak ingin terluka, mungkin aku hanya ingin dicintai dengan baik, mungkin aku sudah begitu lama ada dalam mode waspada, mungkin aku tidak bisa membiarkan seseorang menyakitiku sampai aku harus menyakiti orang lain pada akhirnya. Tapi dari semua itu, aku melihat betapa alasan konyol tiba-tiba muncul jam setengah tiga dini hari. Adalah rasa takut. Rasa takut yang membuatku begitu, rupanya. 

Aku berusaha terbang menjauh dari bumi dan melihat diriku dari langit. Dari tempat ini, katanya aku bisa lebih logis dalam melihat suatu masalah. Tapi yang kulalui adalah langit-langit yang penuh dengan potret derita yang dialami perempuan 24 tahun. Dan terus-menerus kulihat kesedihan itu menjadi ranting di awan-awan. Lalu, baru saja aku terbang melewati itu. Rasanya begitu lega, hamparan luas putih itu membuatku sangat nyaman untuk bernapas. 

Tapi itu hanya sebentar saja.

Setelah kejadian itu aku justru merasa begitu takut.

 Petir menyambar dan aku tidak ingin terjatuh untuk sekedar melihat potret di masa lalu. Aku sudah teralu nyaman dengan posisiku, kesendirianku, kenyamanan yang kubuat sendiri dengan susah payahku selama ini, dengan kerja kerasku, dengan segala upaya yang sudah kulakukan selama bertahun-tahun, dengan segenap kemampuanku, dengan segala hal yang aku punya, sudah kuberikan semuanya. Aku tidak mau ada di posisi seperti dulu lagi. Aku juga tidak bisa membiarkan orang lain membawaku kembali masuk ke sana. Aku begitu takut mempercayakan hidupku ke orang lain, yang baru kukenal beberapa waktu. Tapi brengseknya aku begitu mencintainya!  Lalu aku harus apa dengan perasan yang begitu biadap ini? 

Apa aku harus menyerahkan dengan tutup mata? Seluruh hidupku ini?  Ke orang lain? Yang dia sendiri juga memiliki kesulitan hidup? Bahkan mungkin lebih sulit hidupnya dibandingkan aku? Lalu kami bersama dengan segala hal yang sudah terjadi di masa lalu? Bisakah kita menjauh dari semua kesulitan itu? 

Karena terlahir dengan seperti ini bukan salah siapa-siapa. Ini takdir, katanya. Mungkin aku bisa lebih utuh dan tenang saat mencintaimu ketika aku tidak lagi harus bekerja keras seperti laki-laki agar aku bisa hidup selayaknya perempuan. Aku menyukai matamu, aku ingin anakku memiliki mata itu. Tapi tidak dengan segala kepedihan yang terus mengikuti kita berdua. 

Juga hal-hal yang logis, yang mungkin baru kurasakan sekarang betapa sedihnya menjadi seseorang yang tidak memiliki begitu banyak uang dan kesempatan. Aku harus menukar banyak hal dengan waktu dan tangisan lelah. Aku lelah sekali. Tapi tidak bisa menghentikannya, kita harus menjadi apa yang orang-orang lakukan agar bisa hidup. Lalu, aku harus mengerahkan semua hidupku agar bisa memberi kehidupan layak kepada diriku di tubuh anak kecil, di masa depan. 

Begitu pula gambaran indah yang getir, yang bisa aku janjikan suatu hari sebagai perempuan yang tidak memiliki banyak hal. Nak, jika suatu hari ibu menjadi perempuan yang galak dan suka marah-marah, maafkan. Ibu akan selalu kembali ke titik ini dan belajar lebih baik. Karena begitulah kadang-kadang cinta bekerja. Dia bersembunyi di balik amarah dan rasa tangis. Juga kepekaan yang mungkin suatu hari membuatmu merasa tidak begitu dicintai, ibu akan terus-menerus belajar. Bagaimana cara mencintai dari kepingan-kepingan cinta yang sudah retak, ibu akan terus memungutnya dan memberikan segalanya padamu. Sampai ibu tidak punya apa-apa, ibu akan memberikan seluruh hidup ibu, bahkan jika kematian menjadi opsi terbaik untuk segala hal di hidupmu, mungkin akan ibu terima. Begitu besar kasih sayang yang bisa kubayangkan sampai-sampai aku takut membayangkan masa depan, jika bersama dengan orang yang salah. 

Tapi yang terpenting adalah, aku masih punya sedikit waktu. Dan semua ketakutan itu belum terjadi. 


Komentar

Posting Komentar

Tinggalkan jejak di sini yuk!

Daftar Bacaan

Pikiran-pikiran pecundang

Cerita soal mengapa

Membaca lembaran rasa lelah

Belajar menderita dari Levi Ackerman

Kalau ada yang lebih indah dari intro payung teduh, mungkin itu kamu

Hal-hal yang mama tidak tahu