Cerita soal mengapa
Aku suka melihat video tentang Jepang terutama Sapporo. Di kamarku, ada sebuah benda yang kugunakan untuk menggantungkan tulisan dan foto-foto tentang orang yang kusayangi; serta sesuatu yang berarti untukku. Salah satu dari tulisan itu adalah impian yang juga kugantungkan, aku ingin ke Sapporo, suatu hari. Kenapa? Entahlah, ingin saja. Seperti halnya aku suka warna pink. Tidak ada alasan apa-apa, cuma ingin. Ah, tulisan itu tadi hanya caraku untuk melupakan pemikiran tentang hal-hal aneh.
Aku pernah berkhayal, kalau dulu itu, waktu ibuku sempat beberapa tahun pergi, ibuku mungkin berada di kahyangan. Dimana itu kahyangan? Di langit. Tidur di atas awan, bersama dengan peri-peri (Seperti yang digambarkan Indosiar tahun 2009). Sering aku diam di jendela dan mengamati langit. Siapa tahu, ibu akan diam-diam melirikku dan terbang, pulang. Menunggu itu sudah kulakukan sejak aku belum mengerti apa yang membuat pensil inul bisa diberi nama pensil inul. Lalu, beberapa tahun setelahnya aku bertemu seseorang yang menggambar seorang laki-laki yang tidur di atas awan. Dia bilang, itu adalah imajinasinya saat kecil. Saat kecil; dia mengira kalau orang mati itu sebenarnya sedang tidur di langit. Sedang tidur di kasur empuk, dan ya seperti itulah gambarnya.
Itu adalah kali pertama aku iri dengan kemampuan seseorang. Kalau aku bisa menggambar, ah kalau aku lebih tekun belajar menggambar dari dulu, mungkin skillku akan lebih baik dari gambar babi yang selalu aku puja-puja setengah mati. Kata dia, menggambar itu bukan 100% bakat, bisa dilatih. Ya, aku percaya saja. Toh aku juga berpikir seperti itu, dan bilang kalimat yang sama kalau ada orang yang mau berlatih menulis. Setelah beberapa lama, akhirnya kami saling jatuh cinta dan memutuskan untuk merencakan menikah beberapa tahun lagi.Aku sudah lelah dengan cerita-cerita sedih soal hubungan orang dewasa. Kesedihanku sudah terlalu sering kutelan saat aku berusia 17-21 tahun. Rasanya akan sedikit lebih baik kalau cukup berhenti di situ. Aku berusaha untuk menjaga diriku sendiri agar tidak terlalu bersedih terhadap sesuatu hal, demi diriku sendiri. Itu yang ingin kulakukan sampai sekarang. Kupikir, aku seharusnya bisa lebih fokus mengisi banyak potongan-potongan waktu dengan hal-hal yang bisa membuatku bertumbuh; juga menghasilkan lebih banyak uang. Aku ingin menyudahi rasa takutku akan kesulitan finansial atau hal-hal sejenis itu di masa depan. Tidak akan kubiarkan orang yang kusayangi menangisi impiannya karena aku tidak punya uang untuk membuatnya meraih itu, tidak akan kubiarkan, tidak akan pernah.
Lalu, aku ingin bertumbuh menjadi perempuan yang bisa memegang banyak sekali hal, juga melakukan kegiatan-kegiatan yang begitu sibuk, agar aku bisa menjadi yang dibanggakan ayah ibuku. Karena aku tidak mau lagi berada dalam keadaan menunggu pertolongan atau harapan dengan lemah terkulai seperti dulu, aku tidak mau hatiku berjatuhan saat orang lain tidak bisa mengusahakan apa yang kumau. Jadi kupikir, aku bukan seorang perempuan yang cocok jadi seorang pasangan; untuk laki-laki yang tidak punya tujuan di hidupnya. Aku suka melihat seseorang yang sedang mengusahakan dirinya sendiri, tetapi tidak terlalu berkoar-koar menunjukkan itu ke dunia. Makanya, aku selalu menyukai jenis orang-orang introvert dan pendiam yang aneh. Dan aku menyukainya, karena dia seperti itu.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan jejak di sini yuk!