Anak nakal yang kelelahan di kereta

Hari saat pinggangku terasa pegal. Aku duduk di gerbang paling depan. Dengan keputusasaan dan rasa ganjil yang juga ikut duduk di sampingku. Kami hanya diam sambil melihat-lihat pintu kereta yang terbuka lalu tertutup otomatis. 


Apa aku seseorang yang hina dan tidak pantas hidup? 


Kenapa aku memikirkannya? Apa pentingnya pertanyaan itu? 


Apa aku hanya tumpukan sampah yang kebetulan diberi nyawa? 


Tapi, meskipun aku hanya tumpukan sampah, setidaknya orang tuaku menyayangi sampah yang berharga ini. Kupikir itu cukup. 


Tapi jujur saja, itu tidaklah cukup. Sebenarnya…


Aku kehilangan beberapa hela nafasku, dan kesusahan bernafas akhir-akhir ini. Aku juga kesulitan mendengar. Indraku hilang tepat saat aku meninggalkannya. Kuharap ia memilih seseorang yang bisa membuatnya lebih bahagia. 


Hatiku sesak saat lidahku berusaha membela diri. Tapi kuingat, di masa lalu sudah kujelaskan berkali-kali, tentang alasan-alasan itu. Itu tidak mengubah apapun. Apa yang kukatakan, aku tetap terlihat brengsek. Mungkin seperti itulah caranya melihatku sejak dulu. Mencintai orang brengsek memang menyenangkan. Dan seharusnya dia tidak melakukan itu. Kuharap.. ia tidak akan pernah melakukan itu lain kali.


Menjalani hari-hari setelah aku kehilangan beberapa hela nafasku, membuatku terlalu banyak berbaring di keputusasaan. Rasa payah dan goblok ini terus mengikat otakku dan membuatnya hampir meledak. Mungkin ledakannya akan menghentikan erupsi Gunung Merapi pagi tadi.


Mungkin aku hanya menjadi penyebab kebakaran yang jauh lebih luas dibandingkan pulau kalimantan. Juga pembawa sial yang seharusnya disingkirkan. Penilaianku menjadi berubah semenjak aku menjadi orang jahat. Anak baik kini tumbuh menjadi orang dewasa yang jahat. Entah apa yang membuatnya begitu. Mungkin karena aku sejak dulu terlahir dari darah yang agak jahat(?) atau bodoamatlah. Tidak penting memikirkan asal-usul orang jahat. 


Kehilangan tidak sesedih itu kalau perasaan tidak sedalam itu. Padahal aku menghadapi ratusan pedang menghujam dadaku setiap hari, setiap kali aku menggunakan sebagian ingatanku. Aku membenci ingatan bangsat itu. Akan kutendang kalau itu bisa kulakukan. 


Apalah artinya…

Apalah artinya orang-orang yang mencintai dengan sangat dalam. Apalah artinya perasaan itu? Seseorang akan menyeretku ke rumah sakit jiwa saat aku bilang begitu tempo hari. Orang-orang gila memang tidak semua diikat. Ada juga yang luntang-lantung di sebuah perusahaan. 


Aku merasa putus asa, dan cinta tidak akan pernah menolongku. Tidak akan kuulangi kebodohan di masa lalu.. tidak akan kubiarkan aku menderita karena pilihanku. Ini konyol. Aku benar-benar harus pergi. Aku harus menyudahi semua itu. Ya. Itu sudah benar begitu. Demi semua orang. Dan demi dia yang kucintai begitu dalam.


Komentar

Daftar Bacaan

Benda kesayangan dan anak-anak yang bingung

Pikiran-pikiran pecundang

Membaca lembaran rasa lelah

Anak kecil yang bahagia dengan mimpi-mimpinya

Sulitnya berperilaku normal

Ditelan rasa takut