Membelah

Aku tidak pernah menyesali apapun. Begitu juga keputusan bodoh di masa lalu. Tapi pilihan kali ini begitu menyebalkan. "Raya, berhentilah menjadi orang bodoh! Kamu terlalu lama membiarkan otakmu bersantai." Aku berusaha tidak mendengarkan suara itu. 

Baru kali ini aku benar-benar ingin membelah diri menjadi dua. Satu bagian untuk memenuhi segala ekspektasi dan tuntutan orang-orang di sekitarku, satunya kugunakan untuk bersikap tolol dan mengikuti apa yang kusukai.. 

Dengan seliar-liarnya. 

Sesekali, aku ingin menendang kepala orang sambil meludah di mukanya, memarahinya atas kebijakan-kebijakan goblok yang dibuat. Sebentar lagi, aku hanya ingin tidur di pangkuan seseorang sambil mematikan seluruh jaringan otakku. Aku ingin dielus-elus kepalaku sambil mencium tangannya beberapa kali. Rasanya aku bisa hidup lama dengan keadaan seperti itu. Rupanya enak juga menjadi bodoh dan melakukan hal yang kuinginkan. Aku merasa begitu hidup meskipun hanya beberapa waktu. Aku ingin melihat matanya setiap hari dengan segala kepedihan hidup yang telah kualami. Aku ingin ditatap dan berciuman di tengah rasa sakit dan penderitaan. Semua orang berhak mendapatkan ciuman saat telah lama hidup menderita.

"Perempuan tidak boleh melakukan hal kasar begitu, tidak boleh menghayal terlalu jauh, tidak boleh berharap kepada orang lain."

Aku benci nasehat-nasehat, peraturan-peraturan, logika-logika, alasan-alasan, dan semua hal yang berkaitan dengan orang dewasa. Aku ingin melakukan semua hal yang kuinginkan. Aku ingin kabur dari tempat ini, pergi ke tempat yang jauh dan menculik orang yang terus-menerus mengusik pikiranku setiap malam. Aku ingin memilikinya sendirian. Aku ingin ia memilikiku. Tapi ketakutanku tidak lebih besar dari semua hal. Dan aku tidak merasa begitu diupayakan. Jadi kalau begitu terus sampai lama, mungkin aku akan merasakan kesakitan yang sama. Ah, bodohnya... Aku rasa, kalau rasa sakit ini masih terus berlanjut sampai bertahun-tahun, aku akan mati karena kesakitan. 

"Perempuan kok nggak bisa dinasehati. Durhaka! Perempuan akhri zaman!"

Aku benar-benar takut akan banyak hal. Tidak ada yang melindungiku. Tidak ada yang berusaha memahami apa yang terjadi dan apa yang kupikirkan, makanya aku setakut ini. Pada akhirnya, semua orang akan kecewa dan menyalahkan aku atas semua keputusan-keputusan yang kubuat. Dan aku pantas menjadi perempuan terkutuk yang mati dalam penyesalan suatu hari nanti. Aku pantas. 

"Ya memang. Kamu pantas menjadi perempuan terkutuk."

Tidak ada yang sanggup aku lakukan. Semua energiku terkuras habis. Aku seperti orang gila yang masih diperas keringatnya. Orang gila yang harus melanjutkan hidup agar bisa membuat ayah dan ibuku tenang. Tapi kenapa bisa semenyebalkan ini? Kenapa semua hal terasa begitu menakutkan dan aku juga seperti tidak bisa berbuat apa-apa? 

Apa hidup sebagai orang normal sesulit ini? Kenapa orang-orang begitu hebat bisa melewati berbagai fase hidup? Apa karena mereka punya ayah yang baik? Apa karena aku tidak? Apa karena mereka memiliki begitu banyak uang sehingga tidak perlu khawatir akan hidup dan masa depan? Apa karena semua itu? Kalau memang iya, mungkin sepantasnya aku tahu diri. Menerima dengan rasa kalah atas semua kekacauan yang terus-menerus kuhadapi di setiap keputusan-keputusan penting dalam  hidup. Aku benci sekali. Tapi kenapa harus aku? Dari sekian banyak orang yang sama-sama jarang dibahagiakan di muka bumi ini? Kenapa harus aku? 

"Karena kelahiranmu adalah bentuk dari kesalahan. Kau dilahirkan untuk merasakan penderitaan."

Kata orang, tidak menikah itu tidak apa-apa. Tapi apa iya? Aku akan betah dengan kesepianku ini? Dengan segala hal yang sudah harus kulakukan sendiri dari kecil? Dan semua hal-hal yang sulit sekali kuyakini? Aku kesusahan melakukan sesuatu, dan aku butuh orang lain meskipun perannya hanya menyemangatiku. Aku ingin ditatap dan dicintai dengan baik seperti orang lain. Kenapa aku harus bersusah payah? Apa tidak semua orang berhak untuk mendapatkan itu? Kenapa justru aku seperti mundur ke beberapa tahun lalu? Yang kurasakan, aku seperti masih jalan di tempat dengan kebodohan yang sama. Tapi kali ini, aku berusaha untuk meninggalkan perasaan itu. Tapi bangsatnya, aku seperti tercekik setiap hari. Bagaimana ini? Apa yang sebaiknya aku lakukan? 

"Cuih! Tidak tahu diri! Tidak ada laki-laki yang mau berbagi penderitaannya denganmu! Perempuan bodoh!"

Aku tidak punya siapapun yang bisa memahamiku. Aku tidak memiliki siapa-siapa. Aku tidak punya banyak hal. Dan kesedihan ini membuatku begitu takut. 

Ketakutanku seperti ingin membunuh setiap hal-hal yang kulakukan. Jadi, seringkali aku hanya menangis dan membasahi bantal tanpa tahu akan melakukan apa setelah ini. Aku benar-benar ingin menjadi orang yang dewasa, tapi rasanya aku tidak tahan dengan semua kedewasaan ini. Bolehkah aku sekarang bersikap bodoh sekali lagi dan menghampirinya sambil menangis seperti orang gila? Menurutku, cepat atau lambat dia akan risih dan akhirnya membenciku. Nah, setidaknya aku akan dibenci dan tidak memiliki peluang untuk bisa bersama dengan dia. Tapi, aku tidak bisa melakukan itu. Aku ingin diingat sebagai perempuan baik, bukan perempuan gila. Aku ingin dilepaskan dengan cara baik-baik. Bukan dengan paksa. 

Aku ingin..

Bersama dengan dia...

Menderita dan menyesal bersama dengan dia.. 

Melanjutkan hal-hal sulit penuh kepedihan bersama dengan dia..

Melakukan hal-hal bodoh dan mengajak dia melakukan banyak hal..

Tapi tidak. Dia tidak seingin itu. Tidak seberusaha itu untuk membuatku berani. Tidak. Pikiran ini tidak akan pernah bisa kuwujudkan.. 

Jadi aku benar-benar ingin membelah diriku menjadi dua. 

*** 

Dari tempat yang jauh itu, terlihat seorang perempuan membelah sendiri tubuhnya menjadi dua. Sebuah kapak ia gunakan untuk memecahkan kepalanya sendiri. Kemudian ia menjerit sangat keras hingga burung-burung di sekitar tempat itu beterbangan. Ombak pantai dan sore itu mengiringi kematiannya. Ia tamat dengan segala kebingungan yang  hinggap di kepalanya. 

Tidak lama, laki-laki tua memakan sisa-sisa daging yang menghambur keluar. 

"Kita makan daging hari ini."

"Tapi ini daging perempuan."

"Tak apa. Perempuan gila punya daging yang lebih enak."

Komentar

Daftar Bacaan

Pikiran-pikiran pecundang

Cerita soal mengapa

Membaca lembaran rasa lelah

Belajar menderita dari Levi Ackerman

Kalau ada yang lebih indah dari intro payung teduh, mungkin itu kamu

Orang-orang yang tak punya masa lalu

Ditelan rasa takut