Dua Orang Manusia yang Bernama Kita


Kita ada sepasang tanda tanya tanpa mengapa. Sebuah rambu-rambu yang tak mampu menunjukkan titik temu. Kita adalah segaris warna abu-abu. Entah hitam, entah putih. Kita adalah sebuah kata yang tak paham maksudnya. Sebuah diksi yang hanya mampu diterjemahkan oleh diri sendiri. Kita adalah sesosok manusia yang banyak bicara, tetapi tak mampu untuk saling bertanya. 

Kita terjebak pada kata semoga. Sebuah kata paling lemah saat dua manusia dihadapkan pada ketidakmampuan dalam berbuat apa-apa. Kita saling menutup rasa ingin tahu, saling memenggal tanda tanya baru. Saling memberi titik pada kalimat tanya. Memberi tanda miring pada sebuah ungkapan kita bukan siapa-siapa. 

Dua orang manusia yang bernama kita adalah wujud dari ketidakberdayaan pada dunia. Sebuah perumpamaan pahit dari takdir. Dua potong manusia yang sedang menunggu waktu. Entah kapan. Entah akan tiba atau tidak waktu itu. Entah berakhir dengan kalimat apa nantinya.  

Tidak ada masa yang terlalu lama dalam kamus kita berdua. Tidak ada kalimat saling tunggu menunggu disana. Tiada ungkapan selamat pagi dan selamat makan. Tiada perhatian pada hal-hal kecil. Tetapi jauh di palung hati, semua itu telah lama terkoneksi. Tidak perlu dikatakan secara jelas, tidak perlu diberi cahaya dengan terang, tidak perlu sebuah garis bawah untuk berkata "Tunggu aku". Maka tak ada kalimat "Ya, aku akan menunggu" pada percakapan disana. Semua terasa sudah ada meski belum pernah terjadi. Semua terasa mengalir begitu saja tanpa permisi. 

Kita adalah dua orang manusia yang berhenti karena tanda tanya. Sama-sama ingin tahu tapi tak pernah menemukan jawabannya. Sama-sama ingin mengerti meski bersikap tak peduli. kita adalah dua sosok manusia yang tidak tahu diri. Entah kamu yang tidak peka, atau aku yang terlalu pandai menerka-nerka. Entah aku yang merasa sok tahu, atau kamu yang memang tak pernah ingin tahu. 

Dua sosok manusia yang bernama kita adalah wujud dari ketidakberdayaan waktu. sebuah perjalanan yang tak pernah punya arah. Saling sikut-menyikut. Saling jatuh-menjatuhkan. Saling dorong-mendorong. Tapi tak pernah membiarkan salah satu dari kita keluar dari ketetapan. 

Dua orang manusia yang bernama kita adalah kompetisi hati yang entah dimenangkan oleh siapa. Sebuah perlombaan tanpa tahu waktu pendaftaran. Sebuah pekerjaan yang tak punya batas waktu. Saling berjuang entah untuk siapa. Saling menunggu entah untuk apa. Saling berkompetisi tanpa ada yang berusaha jadi pemenang. 

Ya, itulah kita, dua orang manusia yang sedang bertanya-tanya. 

Komentar

Daftar Bacaan

Pikiran-pikiran pecundang

Cerita soal mengapa

Membaca lembaran rasa lelah

Belajar menderita dari Levi Ackerman

Kalau ada yang lebih indah dari intro payung teduh, mungkin itu kamu

Orang-orang yang tak punya masa lalu

Ditelan rasa takut